Recent twitter entries...

Tampilkan postingan dengan label kisah kisah motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah kisah motivasi. Tampilkan semua postingan

Pelangi Dalam Hatiku

0
Namaku Aurora yang artinya cahaya. Orang tuaku memberi nama Aurora padaku dengan harapan aku bisa menjadi lentera dalam hidup mereka yang sepi. Namun aku sendiri tak pernah bisa melihat secercah sinar pun dalam hidupku karena aku terlahir dengan kondisi buta. Mungkin tidak akan ada yang percaya ketika aku bilang aku sangat menyukai pelangi karena pada kenyataannya aku memang tidak dapat melihat pelangi itu melalui mataku. Tapi aku beruntung karena ada dia, Baruna sejak dulu dia selalu menjadi mataku saat pelangi itu muncul. Menggambarkan betapa indahnya lukisan Tuhan yang tiada duanya itu padaku. Berada di sampingku setiap kali pelangi itu muncul bersamaan dengan mentari yang muncul dari balik awan kelabu.
Hei...dengar itu, suara hujan yang dari tadi mengguyur bumi sudah mulai reda. Aku bisa merasakan lembutnya sinar matahari yang memancar dari balik awan kelabu dan berusaha keras mengusir hawa dingin yang tadi menyelubungi bumi.
“Wah, kau memulai tanpa aku ya” tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkanku. Suaranya sangat aku kenal, mungkinkah itu dia, Baruna?
“Baruna...kaukah itu?”
“Tentu saja. Kau pikir siapa lagi?” dia tertawa sambil menepuk-nepuk kepalaku dengan pelan lalu duduk di salah satu bangku di beranda itu yang letaknya tepat di sebelahku. Entah apa sebabnya dia mulai berteriak kegirangan, membuatku sedikit terkejut karenanya.
“Ada apa?”
“Pelanginya muncul” ujarnya begitu girang.
“Benarkah? Kamu tidak membohongiku kan?”. Benarkah kali ini pelangi itu muncul atau seperti biasanya Baruna hanya membohongiku saja. Memang maksudnya baik ingin membuatku bahagia tapi itu berlebihan bagiku.
“Bukankah Tuhan akan selalu tersenyum setelah hujan reda dan alam akan menyambutnya dengan suka cita dan menyuguhkan lukisan yang luar biasa pada bumi untuk menunjukkan kemurahan hati Sang Pencipta”
“Jurus itu lagi”
Baruna kembali tertawa geli sambil menepuk-nepuk pelan kepalaku.
“Hei, kemarilah biar kutunjukkan padamu”. Dia membimbingku ke ujung beranda, menggenggam tanganku dengan begitu erat entah apa maksudnya.
“Benar-benar muncul ya? Seperti apa bentuknya?”
“Persis seperti senyummu saat ini, melengkung dengan sempurna. Warnanya terlihat begitu indah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Hei, lihat itu ada burung yang terbang memutari pelangi itu...”
“Pasti indah, seandainya aku bisa melihatnya” ujarku tertunduk sedih.
“Tenanglah, kau akan selalu melihatnya. Biar aku yang menjadi matamu” ucapnya sambil kembali mengelus-elus kepalaku dengan penuh perhatian.
Baruna, terimakasih. Tapi sampai kapan kamu akan tahan dengan semua ini? Sampai kapan kamu akan tahan berada di sisiku dan menjadi mataku untuk bersama-sama melihat pelangi itu?

¶¶¶

Tadi Baruna telepon dan memintaku menemui dia di taman kompleks. Katanya ada sesuatu yang mau dia tunjukkan padaku, entah apa itu, tapi semoga bukan sesuatu yang aneh seperti yang biasa dia lakukan untuk menjahiliku.
Heh...untung saja cuaca hari ini sangat cerah jadi mama mengijinkanku keluar rumah sendirian. Hei, dengarkan itu suara burung yang saling bersahut-sahutan, benar-benar sangat merdu...
GEDUBRAK!!!! Aduh, sakit...sepertinya aku menabrak sesuatu atau mungkin malah seseorang?
“Hei, kalau jalan pakai mata dong!”. Orang yang aku tabrak itu berteriak-teriak memarahiku, tapi ini memang salahku. Jadi tidak apa-apa...
“Maafkan aku”
Orang itu tampaknya benar-benar tidak terima dan sekarang dia berjalan mengitariku lalu dia dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak mungkin menyadari kalau aku itu buta.
“Pantas saja. Orang nggak punya mata” orang itu merebut paksa tongkatku dan melemparkannya entah kemana. Dia dan teman-temannya kembali tertawa lalu mendorongku hingga jatuh terjengkang.
“Hei, apa yang sedang kau lakukan”. Suara itu? Mungkinkah itu Baruna? Dari nada suaranya aku tahu dia benar-benar marah. Baruna membantuku berdiri dan menyerahkan tongkat yang tadi dibuang oleh gadis itu. “Apa yang sedang kamu lakukan pada dia!” Baruna kembali membentak gadis itu. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan wajah Baruna yang sedang marah seperti saat ini. Pasti sangat menakutkan. Wajahnya yang selalu ceria kadang membuatku lupa kalau dia juga bisa marah.
“Baruna...untuk apa kamu memperdulikan gadis itu, dia itu cuma gadis buta yang tidak berguna. Em...lebih baik sekarang kita pergi dari sini”. Rupanya gadis itu mengenal Baruna dan sepertinya dia menyukai Baruna, lihat saja sekarang dia menggelayut manja di pundak Baruna. Tapi secara kasar Baruna mendorong gadis itu.
“Asal kamu tahu, gadis ini jauh lebih berarti bagiku dari pada kau yang tidak tahu diri itu” ucap Baruna masih dengan nada suara tinggi.
“Apa maksudmu?”
“Dia pacarku”
“Pacarmu? Kamu pasti bercanda” gadis itu kembali tertawa terbahak-bahak tidak percaya dengan apa yang Baruna ucapkan.
“Apa kau melihat wajahku ini seperti sedang bercanda”
“Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!” gadis itu berteriak histeris.
“Menyingkirlah!” Baruna mendorong gadis itu agar menjauh darinya lalu menarik tanganku agar segera pergi dari tempat yang tidak menyenangkan itu.
Dia masih terus memegangi tanganku dengan sangat erat belum juga mau melepaskannya. Aku tidak tahu dia mau membawaku kemana. Dari deru nafasnya yang rusuh aku tahu dia masih sangat marah akibat kejadian tadi jadi aku rasa tidak tepat kalau aku bertanya padanya saat ini. Dia berhenti di suatu tempat lalu membantuku duduk di kursi yang ada disitu, aku rasa ini bangku taman sebab aku masih dapat mencium bau segar pepohonan dan rumput yang tumbuh subur di taman ini.
“Hei, kenapa diam” Dia duduk di sebelahku dan suaranya sudah kembali terdengar ceria. Tapi aku tidak tahu dengan raut wajahnya, mungkin dia berusaha menyamarkan suaranya untuk membuatku tidak merasa khawatir.
“Kamu terdengar menakutkan saat marah” kukatakan yang sejujurnya dan dia kembali tertawa. Tawa renyah seperti biasanya dan seperti biasanya pula dia lalu mengelus-elus kepalaku.
“Sudah tidak apa-apa. Maaf kalau membuatmu takut”
“Sepertinya kalian saling mengenal”
“Siapa?”
“Baruna dan gadis itu”
“O...dia. Cuma salah satu gadis sok di sekolahku”
“O...”. Aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku saat ini, aku bisa merasakannya dari nafasnya yang tidak teratur sepertinya masih sangat marah. Tapi jujur aku benar-benar tidak sanggup mendengar apa pun lagi mengenai Baruna dan gadis itu, aku tidak tahu kenapa tapi rasanya hatiku jadi merasa sakit. “Em...Baruna terimakasih untuk yang tadi”
Baruna tidak menjawab hanya tersenyum dan kembali mengelus kepalaku pelan.
“Tentang ucapan Baruna yang tadi itu...”
“Kau tidak perlu memikirkannya kalau itu hanya membuatmu tidak nyaman”
“Justru karena itu, tolong beritahu aku” Aku tidak tahu apakah memang ini yang aku inginkan tapi aku benar-benar harus tahu maksud ucapan Baruna saat dia menolongku tadi, apakah itu hanya tipuan saja?
“Aku...aku memang menyukai Aurora”
Dia mengatakannya, dia sungguh-sungguh mengatakannya, sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu.
“Kau tidak perlu mengatakan apapun, asalkan kamu tetap membiarkanku berada di sampingmu itu sudah cukup”.
Otakku rasanya jadi beku dan sama sekali tak bisa kugunakan untuk berfikir, aku hanya dapat mengangguk pelan dan tidak tahu harus berkata apa. Tuhan kenapa malah jadi sekaku ini? Tidak bisakah kembali saja seperti semula.
Baruna menarik nafas dengan rusuh lalu tertawa sangat keras sepertinya berusaha untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman itu dari hatinya. “Kubawakan sesuatu untukmu” suaranya kembali ringan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa tadi. Terimakasih Baruna, terimakasih.
Kuterima benda itu dari tangan Baruna tanpa berkata apa pun, ternyata itu sebuah buku. Tapi yang ini berbeda hurufnya menyembul dan bisa aku rasakan dengan jelas, sebuah buku yang ditulis dengan huruf Braille. Kuraba sampulnya dan kubaca judul buku itu ‘Pelangi Dalam Hatiku’ dan Ya Tuhan pengarangnya adalah Baruna.

Tuhan akan selalu tersenyum saat hujan reda maka alampun akan menyambutnya dengan suka cita. Menyuguhkan lukisan yang begitu indah kepada manusia di bumi untuk menunjukkan kemurahan hati Sang Pencipta.
Maka itulah pelangi yang tercipta dari senyum Tuhan, kemurahan hati Sang Pencipta, suka cita alam semesta, keindahan dan harapan.
Tak pernah kusadari keajaiban itu sampai aku berjumpa dengan gadis ini, seorang gadis yang menunjukkan betapa indahnya pelangi dan harapan yang menyerupai ujung pelangi itu.
Dialah keindahan pelangi itu bagiku, keindahan lengkung pelangi itu adalah senyum yang merekah dari bibirnya dan sinar pelangi itu adalah pancaran cemerlang di matanya. Dialah pelangiku, Pelangi Dalam Hatiku. Aurora.

I'm Sorry And I Love You Forever

0
I’m Sorry And
I Love You, Forever


Mereka bilang setiap kali hujan turun, seseorang di suatu tempat telah menyakiti hati orang lain.
Caca tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri, matanya terpaku pada sosok yang sangat dikenalinya, pada sosok yang begitu ia cintai. Seseorang yang selalu ia percayai dengan seluruh jiwanya namun lihatlah apa yang harus dia saksikan sekarang. Orang yang begitu dia cintai, orang yang begitu ia percayai telah dengan mudahnya mengkhianati cinta mereka. Sungguh bagaikan berton-ton batu yang dijatuhkan secara bersamaan tepat di dadanya, membuatnya sulit untuk bernafas. Membuatnya tak mampu lagi menahan air mata yang telah menggantung di pelupuk matanya. Sungguh terasa begitu sakit, sangat sakit bagaikan ada ribuan bilah pisau yang telah mengiris-iris hatinya yang lembut. Semuanya tak tertahankan lagi, matanya, hatinya, tubuhnya tak sanggup lebih lama lagi menyaksikan itu semua.
“Aozora...” bibirnya bergumam lirih. Ada begitu banyak lara yang tak lagi tertahankan di sana.
Orang itu terlonjak kaget, seketika itu juga kesadaran mulai kembali memenuhi kepalanya. Segera dilepaskannya pagutan bibirnya dari gadis yang berada di pelukannya itu.
Aozora berdiri kaku di tempatnya, kepalanya menggeleng pelan seolah ingin mengingkari apa yang telah ia lakukan dengan gadis yang berada di sebelahnya itu.
Bibirnya menganga seakan ingin menjelaskan semuanya namun sungguh tak ada yang mampu keluar dari sana kecuali nama gadis yang berdiri di hadapannya itu, gadis yang tengah terluka itu.
“Caca…” Aozora kembali menggelengkan kepalanya dan kedua tangannya menjambak kasar rambutnya, sebuah kebiasaan yang selalu dia lakukan setiap kali dia tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.
Aozora tetap tak bergeming dari tempatnya, menyaksikan segala kekecewaan yang muncul di wajah Caca dan… dan air mata gadis itu sungguh membuatnya semakin tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Dia tetap tak bergeming, sungguh tak sanggup lagi bahkan hanya untuk mencegah Caca pergi dari sana. Tidak, sungguh dia tak mampu lagi…
Caca berlari kencang meninggalkan tempat menyakitkan itu membawa serta segala kekecewaan dan rasa sakit hati yang bagaikan hantu yang dengan setia mengikutinya
Maka lihatlah hujan semakin deras membasahi bumi, seseorang di suatu tempat telah kehilangan separuh dari hatinya.

♥♥♥

Mereka bilang setiap kali langit gelap tak berbintang, seseorang di suatu tempat telah kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, cintanya.
Aozora masih tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri. Matanya masih menatap lurus tempat dimana tadi Caca berdiri menyaksikan segala kebodohan yang telah dia lakukan.
“Kau baik-baik saja” seseorang membuyarkan lamunannya, gadis itu biang kerok dari segala masalah yang terjadi antara dia dan Caca.
Gadis itu tersenyum genit dan kembali memeluk tubuhnya serta menciumi bibirnya seakan sama sekali tak terganggu dengan kejadian tadi.
“Tinggalkan aku sendiri” Aoazora mendorong tubuh gadis itu agar menjauh darinya. Namun gadis itu kembali menjangkau tubuh Aozora dan menggelayut manja di pundaknya, bibirnya kembali menyunggingkan senyum yang sungguh menjijikkan.
“Ayolah, kau kenapa? Jangan katakan ini gara-gara gadis tolot itu. Lihatlah bukankah dia sama sekali tak sebanding denganku?”
Aozora menatap tajam gadis itu, dia menyunggingkan sebuah senyum.
“Ya, kalian memang tidak sebanding”
Gadis itu tersenyum puas membanggakan dirinya. Namun senyum itu seketika sirna ketika tanpa dia sangka Aozora tiba-tiba mencengkram lehernya dan menarik wajahnya lebih dekat.
“Dia, gadis yang kau katakan tolol itu jauh lebih berharga berkali-kali lipat dari pada dirimu! Kau dengar DIA JAUH LEBIH BERHARGA DARI KAU!!” Aozora berteriak keras di telinga gadis itu, tangannya masih mencengkram leher gadis itu, sementara tangan gadis itu memukul- mukul seluruh bagian tubuh Aozora yang mampu dia jangkau dengan kedua tangannya.
Rasa takut telah benar-benar menjalar di sekujur tubuh gadis itu, sungguh seketika itu juga Aozora pasti mampu mematahkan lehernya dengan hanya satu tangan.
“Sekarang tinggalkan aku sendiri” Aozora melepaskan cengkraman tangannya dan mendorong gadis itu menjauh darinya. Gadis itu jatuh tersungkur di lantai, nafasnya masih tersengal-sengal tak beraturan. Namun sungguh berada di dekat Aozora saat ini sama saja dengan bunuh diri. Gadis itu berdiri pelan dan bersiap melangkah pergi.
Kau memang gila!” umpat gadis itu sambil berjalan menjauh.
Aozora menendang kursi dan meja yang berada di dekatnya, dia berteriak keras. Kali ini dia sungguh telah kehilangan semua kekuatan dalam tubuh dan hatinya. Dia duduk bersimpuh di lantai, tangannya kembali menjambak kasar rambutnya dan air mata kini mengalir deras di kedua pelupuk matanya. Bayangan wajah kecewa Caca kembali menghantuinya, menyayat hatinya dengan sayatan-sayatan yang terasa begitu menyakitkan.
“Bagaimana mungkin aku bisa sebodoh ini? Bagaimana mungkin aku bisa begitu egois? Bagaimana mungkin aku begitu tega menyakiti hati malaikatku itu? Bagaimana mungkin aku begitu tega menumpahkan air mata di mata yang begitu polos itu? Bukankah seharusnya aku yang menjaga hatinya agar tak terluka dan tetap utuh? Bukankah seharusnya aku yang menghapus air mata yang mengalir di pelupuk mata itu? Tapi kenapa justru sekarang aku yang menyakiti malaikat itu? Kenapa aku begitu bodoh!!!” Aozora menangis lebih keras dari sebelumnya. Dia bangkit dari tempatnya jatuh terduduk dan dia berjalan menuju cermin yang berada di dekatnya. Dia berdiri menyaksikan pantulan dirinya di cermin dan rasa kebencian akan dirinya telah benar-benar menguasainya.
“Aozora kau sungguh begitu bodoh! Kau tahu kau telah benar-benar kehilangan cintamu, kau telah benar-benar kehilangan dia” Aozora berbisik lirih mencaci kebodohan yang telah dia lakukan, suatu kebodohan yang telah benar-benar membuatnya kehilangan sesuatu yang begitu berharga baginya. Emosi telah benar-benar memenuhi hatinya, di tatapnya kembali pantulan dirinya di cermin. Aozora tersenym nelangsa.
“Kau sungguh tolol!” Aozora menghantamkan tangannya ke cermin, menghancurkan cermin itu menjadi potongan-potongan mozaik kecil persis seperti hatinya saat ini. Darah segar mengalir dari tangannya. Namun sungguh dia sama sekali tak menghiraukannya bahkan diam-diam dia berharap rasa sakit di tangannya mampu menggantikan rasa sakit dari hatinya yang tak lagi tertahankan.
Maka lihatlah langit yang terlihat semakin terlihat gelap, seseorang di suatu tempat telah benar-benar kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.

♥♥♥

Mereka bilang setiap kali angin bertiup, seseorang di suatu tempat tengah berusaha melupakan kenangan yang berharga.
Caca duduk bersimpuh di samping ranjangnya, air mata masih mengalir deras di pelupuk matanya. Dia menatap nelangsa sebuah foto yang terpajang rapi di mejanya di samping ranjangnya. Foto dirinya dan Aozora, mereka menatap mata satu sama lain dan mereka tersenyum bahagia.
Caca bangkit dari tempatnya dan meraih foto itu, dan air mata kini mengalir lebih deras dari sebelumnya.
“Heh… kini ini semua terasa begitu menggelikan. Sungguh semua tampak begitu menyakitkan di mataku. Senyum bahagia itu kini sepenuhnya telah benar-benar hilang dan menjelma menjadi hantu-hantu kenangan yang begitu mengerikan. Cinta… sungguh haruskah seperti ini, haruskah terasa begitu pahit dan menyakitkan seperti ini? Kenapa harus kau yang menggoreskan luka yang begitu dalam di hatiku? Kenapa harus senyum ini yang menyeringai kejam padaku? Kau… lihatlah bagaimana tubuhkku telah benar-benar kehilangan kekuatannya. Kau dan kenangan ini… bagaimana aku harus bertahan darinya?”
Maka lihatlah setiap kali angin berhembus begitu kencang, seseorang di suatu tempat tengah benar-benar berusaha melupakan kenangan akan cintanya.

♥♥♥

Mereka bilang setiap kali sebatang pohon ditanam, seseorang di suatu tempat tengah berusaha memperbaiki kesalahannya.
Aozora menggenggam erat lengan Caca mencegahnya pergi.
“Kumohon” Aozora menatap penuh harap pada Caca. Dibimbingnya gadis itu ke bangku taman tempat dimana mereka tadi tak sengaja bertemu.
Aozora kembali melirik ke arah Caca, ditatapnya gadis itu yang terkesan seolah telah enggan menatap wajahnya. Aozora menarik nafas dalam dan tersenyum kecut. Beberapa kali bibirnya terbuka dan menutup kembali, heh… begitu banyak keraguan di sana, rasa takut akan penolakan gadis itu. Semua seolah telah bercampur jadi satu berubah menjadi racun yang menyerang seluruh organ tubuhnya membuatnya tak memiliki daya lagi. Padahal sungguh Aozora telah berulang kali berlatih untuk ini semua, untuk mengungkapkan penyesalannya, namun seketika itu juga semua kata-kata itu berbalik menghianatinya dan mengabur menghilang begitu saja dari ingatannya. Kini hanya ada rasa bersalah yang begitu besar di hatinya yang tak mampu dia tanggung sama sekali. Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibir itu, hanya desahan nafas flustasi yang terdengar.
“Heh… ternyata memang tak pernah ada ‘untuk selamanya’” Caca tersenyum kecut, memecahkan semua kebisuan yang tengah berlangsung.
Aozora tersentak kaget, menatap nelangsa Caca.
“’Selamanya’” Aozora mengulangi kata-kata itu lirih seakan kata-kata itu telah kembali menggoreskan luka baru di hatinya. Dia menarik nafas dalam dan kembali menatap Caca.
“Tak pernah ada ‘untuk selamanya’. Semua karena ketololanku. Aku yang terlalu buta tak sanggup melihat bahwa satu-satunya orang yang aku cintai ada di sisiku. Aku terlalu dungu untuk mengerti arti kata itu. Kumohon maafkan aku dan kembalilah padaku” Aozora menggenggam erat tangan Caca, memohon penuh harap. Namun Caca terlalu dingin untuk menerima kata-kata itu, gadis itu kembali menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan rusuh kembali memamerkan senyum nelangsa itu.
“Bukankah sebatang pohon jika dicabut dengan paksa dari tempatnya di tanam tak akan pernah lagi bisa hidup meski kita berusaha dengan sekuat tenaga merawatnya?”
“Sebatang pohon yang telah dicabut dengan paksa dari tempatnya di tanam memang tak akan pernah lagi bisa hidup sekuat apa pun kita mencoba tapi bukankah masih ada akar yang begitu kuat yang tertinggal di tempatnya dulu. Jika kita merawat dan menjaganya dengan seluruh hati kita, aku yakin suatu saat akan ada tunas baru yang berasal dari akar itu yang tumbuh lebih indah dan kokoh dari sebelumnya. Kumohon kembalilah padaku. Aku mencitaimu. Aku membutuhkanmu” Aozora menatap lekat-lekat wajah Caca seakan dia tak ingin melewatkan satu detik pun saat ini. Direngkuhnya tubuh gadis itu yang terlihat mulai goyah, direngkuhnya ke dalam pelukannya yang hangat berharap semua itu mampu meyakinkan kembali perasaannya kali ini pada Caca.
“Kembalilah menjadi satu-satunya gadis dalam hidupku, kembalilah menjadi satu-satunya duniaku, kumohon kembalilah padaku, kumohon” Aozora berbisik lirih di telinga Caca membuat segala pertahanan yang telah dibangun oleh gadis itu seketika runtuh tak bersisa. Tubuhnya bergetar menahan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya dan air mata mulai mengalir di kedua pelupuk matanya.
“Tahukah kau seberapa sakitnya hatiku?” Caca bergumam lirih sambil sesenggukan semakin mengiris hati Aozora.
“Aku tahu, aku tahu dengan pasti betapa sakitnya perasaan itu. Sungguh aku tak ingin kehilanganmu. Jangan pernah berfikit untuk meninggalkanku, kumohon” Aozora mendekap Caca semakin erat ke dalam pelukannya kini dia pun tak mampu ;agi menahan air matanya.
“Semua tentangmu kini terasa begitu menyakitkan bagiku. Aku… aku bahkan tak sanggup lagi untuk…”
“Tidak, kumohon jangan ucapkan kata-kata itu. Biarkan aku menyembuhkan luka yang telah aku goreskan di dalam hatimu”
Caca menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukan Aozora, ditatapnya wajah itu.
“Tidak, kau tak akan sanggup. Tak pernah ada penawar bagi luka hati”
“Maka biarkan aku mencobanya”
Caca kembali menggelengkan kepalanya.
“Akan kutemukan penawar itu untukmu. Aku tidak perduli bagaimana pun caranya atau berapa pun banyaknya waktu yang harus kuhabiskan untuk mencari penawar itu”
“Kau hanya akan menderita”
“Aku tidak perduli. Asalkan kau ada di sisiku, aku tak akan pernah perduli dengan rasa sakit yang harus kuderita”
“Aozora…”
“Kumohon berjanjilah untuk kembali padaku. Aku membutuhkanmu. Aku mencintaimu”
Air mata itu meleleh dengan indah di pelupuk mata mereka berdua, sebuah harapan baru saja kembali terukir di sana.
Maka lihatlah sebuah tunas baru saja tumbuh pada sebatang pohon yang baru saja ditanam, seseorang di suatu tempat telah memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat.

♥♥♥

Mereka bilang setiap kali sekuntum bunga mekar, seseorang di suatu tempat telah menemukan kebahagiaannya.
“Kau tahu, aku rasa akan selalu ada ‘untuk selamanya’ di dunia ini” Caca tersenyum lembut menatap Aozora yang duduk di sebelahnya.
“Ya, selalu ada ‘untuk selamanya’ bagi kita” batin Aozora kembali membalas tatapan Caca dan tersenyum lembut pada gadis itu.
Maka lihatlah bunga-bunga yang bermekaran itu, seseorang di suatu tempat telah benar-benar menemukan kebahagiaan sejatinya.

Jangan Takut Hidup

0
Aku bercerita kepada cucuku yang berumur 10 tahun tentang manis dan pahitnya hidup ini. Dia bernama Atma, dia sangat menurut dengan nasehat yang aku berikan. Ibunya meningggal saat melahirkannya, dan ayahnya telah pergi entah kemana. Suamiku meninggal 30 tahun yang lalu karena terkena jantung. Atma tinggal seorang diri, aku menyuruhnya untuk tinggal bersamaku tetapi dia tidak mau katanya dia ingin mandiri. Aku bangga kepadanya karena dia akan menjadi orang yang sukses kelak. Memang hidup ini sangatlah indah, tapi tidak seindah saat kita mengalami sebuah masalah. Atma tidak dapat melanjutkan sekolahnya, karena aku tidak mampu membiayai sekolahnya. Aku merasa bersalah kepada anakku yang telah meninggal, karena aku tidak dapat merawat anaknya. Aku menangis dan tidak tahu harus bagaimana. Dua minggu aku menunggu Atma, tetapi dia tidak datang mengunjungiku, aku mulai kawatir biasanya dia selalu datang setiap minggu. Aku takut terjadi sesuatu dengan dia. Sore ini aku bersiap untuk pergi dan mengunjunginya mungkin terjadi sesuatu kepadanya. Dan sampailah aku di rumahnya, aku mengetuk pintunya dan memanggilnya, “Atma, ini nenek buka pintunya” tidak ada yang menjawab, aku membuka pintunya ternyata tidak di kunci. Aku menuju ke kamarnya, dan aku menjerit “Atma, apa yang terjadi?” dia terbaring di tempat tidurnya seorang diri, dia tidak sadarkan diri. Aku keluar rumah dan meminta pertolongan, tapi tidak ada orang yang peduli dengan suaraku. Aku menangis hingga membangunkan Atma, “ne nenek..” aku berlari dan mendapatkannya, “aku tidak makan selama dua minggu ini, karena aku sudah tidak punya uang lagi” “mengapa kamu tidak pergi ke rumah nenek? Nenek selalu punya makanan untuk kamu” “tidak nek, walaupun aku tidak sekolah lagi aku bekerja sebagai penjual Koran, tapi beberapa minggu yang lalu uangku di rampas oleh anak jalanan, dan mereka memukuli aku. Tidak ada orang yang membantuku, aku ingin pergi ke rumah nenek tapi aku sudah tidak kuat jalan lagi, jadi aku putuskan untuk pulang ke rumah” “oh cucuku, kamu akan menjadi orang yang sukse suatu hari nanti” “terima kasih nek, aku akan menjalankan semua nasehat yang nenek berikan untukku. Nek aku lapar” “baik aku akan membelikan makanan, kamu tunggu di sini ya!” “iya nek, aku sudah tidak tahan lagi” Aku pergi membeli sebungkus nasi kucing, dan segera pulang untuk menemui cucuku. Dia memandangiku dengan senyumnya yang sangat manis, walaupun dia masih 10 tahun dia bertingkah laku seperti seorang yang sudah berumur. Lalu kuberikan nasi yang telah kubeli kepadanya dan bertanya, “maukah kamu bercerita bagaimana kejadiannya?” dengan memakan nasi yang kubelikan dia mulai bercerita, “siang itu seperti biasa aku menjual Koran, seharian aku tidak makan karena aku ingin menjual Koran sebanyak banyaknya. Dan aku ingin setelah sore aku ingin mengunjungi nenek dan ingin makan bersama nenek. Saat aku sudah selesai dan ingin pergi ke tempat nenek, aku bertemu dengan segerombolan anak jalanan yang mabuk, dan mereka meminta semua uang yang ada padaku, pertamanya aku menolaknya karena aku ingin menabung semua uang yang aku dapatkan, dan mereka bilang, persetan dengan tabungan hidup hanya satu kali, jadi jangan sia siakan, sini berikan saja uangnya. Kalau kamu ingin menabung besuk kamu juga akan berjualan lagi jadi kamu akan punya uang lagi. Aku masih mempertahankan uang yang ada di saku celanaku, tapi mereka mulai memukuli aku jadi aku harus melepaskan genggaman tanganku. Setelah mereka mendapatkan uangnya mereka meninggalkan aku begitu saja, aku meminta tolong kepada semua orang tapi tidak ada satupun yang memberikan tangannya untukku. Aku masih ingin ketempat nenek, tapi aku sudah tidak tahan lagi, aku pulang ke rumah dan membiarkan pintu rumahku terbuka karena mungkin saja nenek akan datang” aku memeluknya dan memberikan nasehat lagi kepadanya, “cucuku kamu adalah anak yang baik, ibumu akan sangat bangga mempunyai anak seperti kamu, setelah mendengar cerita darimu aku merasa kamu sudah siap menjalani hidup ini, walaupun kamu masih 10 tahun tapi cara berfikir kamu seperti sudah 30 tahun, aku tidak akan kawatir jika suatu hari nanti aku harus pergi dari dunia ini. Banyak hal yang harus kamu ketahui di dalam hidup ini, sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini tapi karena kamu mempunyai sifat yang sangat bijaksana maka nenek berani mengatakan hal ini kepadamu. Hidup ini kadang di atas kadang di bawah kadang bahagia kadang sedih. Kamu tidak perlu takut dengan apapun, kamu harus menggunakan akal sehatmu untuk melalui hidup yang hanya sekali ini. Kamu mengerti dengan kata-kataku ?” “ya nek, aku mengerti. Aku akan menjalani hidup ini dengan baik.” “sekarang kamu istirahat dulu nenek akan pulang sebentar, dan nanti nenek kembali lagi.”Sampailah aku di rumah, kulihat rumahku dari kejauhan, rumah yang selalu sepi dan akan menjadi sepi bila aku mati nanti. Dalam hatiku mengatakan, bahwa rumah ini akan menjadi kepunyaan cucuku, terserah dia ingin menempatinya atau dia ingin menjualnya. Mungkin hidupku tidak akan lama lagi, maka aku akan menuliskan surat wasiat untukknya. Setelah aku mengganti pakaianku aku segera pergi menuju rumah cucuku lagi. Dan ku lihat dia sedang membersihkan tempat tidurnya, dia tidak mengetahui aku datang. “ah nenek..aku tidak tahu nenek berada di sini.” “apa kabarmu?” “saya sudah merasa lebih baik nek terima kasih.” “sini duduk di meja dengan nenek! Nenek ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Simpanlah surat ini, jangan sampai hilang, kamu harus membukanya bila nenek meninggal, kamu harus janji kepada nenek.” “Baik nek, tapi ini apa?” “kamu akan tahu nanti bila waktunya telah tiba.” Dua bulan kemudian aku merasa tidak kuat lagi, aku merasa tidak bisa bernapas dan lemas, aku tidak tahu apa yang terjadi kepadaku, mungkin ini hanya penyakit tua. Dan cucuku seperti biasa setiap hari minggu dia mengunjungi aku. Aku merasa senang saat melihat dirinya datang. Dengan senyumannya, dengan tangan kecilnya dan dengan sendau guraunya dia selalu membuat aku tersenyum. Terima kasih Tuhan karena Engkau memberikan cucu yang sangat bijasana, bila Engkau menginginkan aku kembali ke sisi Mu aku siap.

Setan Menggugat

0
Ketika malam bertambah gelap dan pergi ke peraduan sambil melepas jubahnya ke atas wajah bumi. Angin malam yang begitu dingin berhembus kencang bersama dengan munculnya tiga makhluk tak kasat mata itu. Mereka adalah Pocong, Kuntilanak dan Genderuwo yang terlihat begitu putus asa dan kebingungan. Dalam kegelapan yang teramat sangat itu mereka seperti sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan penting yang tentu saja hanya mampu di dengar oleh telinga setajam kesunyian.
“Cong gossipnya makam kita ini akan digusur dan di atasnya akan dibangun komples perumahan?” ujar Gendoruwo memecahkan keheningan.
“Itu si bukan gossip lagi Mas Genderuwo lihat saja itu cangkul-cangkul yang tergeletak disana dan itu…itu… buldoser itu yang ada di sebelah makam Sundel Bolong katanya akan mulai dioperasikan besok pagi” timpal Kuntilanak yang tidak sabar mendengarkan jawaban Pocong.
“Yah, itu si bukan barang baru lagi. Sebulan yang lalu saja makam yang ada di desa sebelah sudah digusur dan di atasnya dibangun pusat perbelanjaan” ujar Pocong masih tenang-tenang saja.
“Justru karena itu Mas Pocong kita itu tidak boleh diam saja seperti ini, kita itu harus mengambil tindakan yang tegas untuk menggagalkan upaya penggusuran makam kita” tukas Kuntilanak yang mulai disulut amarah.
“Betul itu Cong yang dikatakan Ni Kunti. Mau tinggal dimana kita kalau makam kita digusur” dukung Genderuwo yang juga mulai emosi. “Belum lagi kalau warga kita menuntut penyelesaian masalah ini kepada kita selaku pemimpin mereka bisa tambah mumet kepalaku ini”
“Masalahnya itu upaya apa yang harus dilakukan untuk mencegah penggusuran itu, Genderuwo, Ni Kunti” Pocong terlihat sedang memutar otaknya mencari jalan keluar yang paling tepat.
“Ya, kita lakukan segala cara Cong. Kalau perlu kita takut-takuti saja mereka supaya tidak berani menyentuh makam kita” ujar Genderuwo sambil mengepalkan tangannya.
“Betul itu Mas Pocong kita takut-takuti saja mereka sampai tobat” dukung Kuntilanak yang kehabisan ide untuk menyelesaikan masalah itu.
“Ya tidak segampang itu Ni Kunti, Genderuwo. Kita ini selaku makhluk halus ya punya etika, pantang bagi kita menakut-nakuti manusia sebelum mereka mengganggu ketenangan kita lebih dulu” ujar Pocong bijak.
“Apa rencana untuk menggusur makam kita itu tidak mengganggu ketenangan kita? Ayolah Cong kita kumpulkan warga kita untuk sama-sama mendemo manusia-manusia laknat itu” timpal Genderuwo mulai hilang kesabaran.
“Ngawur kamu ini Genderuwo macam manusia saja kita ikut-ikutan sedikit sedikit demo sedikit sedikit demo” ujar Pocong sambil tertawa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Genderuwo.
“Bukan begitu Mas Pocong, maksudnya itu ya kita takut-takuti saja manusia-manusia itu. Iya to Mas Genderuwo?” bela Kuntilanak.
“Betul itu, betul itu maksudku Cong” ujar Genderuwo merasa mendapatkan dukungan.
“Percuma Genderuwo, Ni Kunti lha wong manusia sekarang itu tidak takut kok sama yang namanya makhluk halus macam kita ini. Apalagi kalau sudah dibutakan oleh nafsu dan keserakahan seperti sekarang ini, ya jangan harap rencana macam ini bisa berhasil. Bisa-bisa nanti kita selaku petinggi bangsa kita ini malah disuap oleh mereka untuk lebih memuluskan rencana mereka” jawab Pocong masih sambil berpikir.
“Seenaknya saja kamu kalau ngomong Cong, memangnya kita ini manusia yang doyan sama duit. Kita ini makhluk halus Cong mana doyan kita sama yang begituan” ledak Genderuwo tambah gusar.
“Seenaknya gimana lha wong memang hobinya manusia itu main suap kok” timpal Pocong tidak mau kalah dalam perdebatan itu.
“Ya tapi jangan samakan kita dengan mereka, Cong. Kita ini biarpun makhluk halus masih punya harga diri. Ingat itu Cong harga diri” debat Genderuwo lagi.
“Sudah, sudah kok malah jadi ribut sendiri seperti ini macam manusia saja yang demen ribut dengan bangsanya sendiri. Kita ini kan berkumpul untuk mencari jalan keluar dari masalah yang sedang terjadi ini” potong Kuntilanak yang tidak tahan lagi dengan pertengkaran itu.
“Maaf Ni. Jadi bagaimana menurutmu Cong” ucap Genderuwo mulai melunak.
“Ya, kita ngalah saja Genderuwo, Ni Kunti. Biarkan saja manusia-manusia itu melakukan apa yang mereka mau pada makam kita. Biar mereka tanggung dosanya sendiri” ujar Pocong bijak.
“Lantas kita dan warga kita mau tinggal dimana Cong. Biarpun kita ini makhluk halus kita ini kan butuh tempat tinggal. Masa kita harus hidup menggelandang macam orang-orang jalanan itu” protes Genderuwo.
“Bener itu Mas Pocong. Masa kita harus menjadi gelandangan seperti tidak punya rumah saja” dukung Kuntilanak yang tidak setuju dengan keputusan Pocong yang menurutnya terlalu gegabah.
“Ya, kita terima saja Ni nasib kita. Lha wong makam kita ada juga cuma untuk pajangan saja, tidak ada yang mau merawat. Malah jadi tempat maksiat. Lihat saja yang itu dipojok, sudah tahu kuburan malah dijadikan tempat untuk pacaran. Daripada kita nanti ikut kecipratan dosanya, biar saja makam kita digusur siapa tahu bisa bermanfaat untuk manusia-manusia itu” jelas Pocong bijak.
“Manusia itu memang tidak ada hormat-hormatnya sama kita ya Cong, Ni Kunti” ujar Genderuwo meminta persetujuan.
Pocong dan Kuntilanak menggut-manggut menyetujui ucapan Genderuwo lalu kembali menghilang bersama dengan angin malam yang berhembus.

19 Rahasia Menjadi Pribadi Penuh Pesona

0
1. Berubahlah dengan waktu dan tempat! Jangan selalu menuruti perasaan negatif, seperti: merasa bosan, lelah, jenuh, tersiksa dengan tempat atau masa lalu. Tersenyumlah, dan dunia akan tersenyum bersama anda! Menangislah, dan anda akan menangis sendirian! Mutiara kata ini mengisyaratkan agar kita selalu berbahagia dimana pun kita berada dan kapan pun. Jika kita merasa sebagai orang yang paling sedih atau menderita di dunia ini, yakinlah bahwa masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada kita.

2. Carilah kenalan, teman, sahabat, relasi sebanyak-banyaknya! Sering-seringlah bepergian, menjelajahi dunia. Semakin sering anda bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, maka kepribadian anda akan semakin matang tanpa anda sadari.

3. Cintailah orang lain seperti mencintai diri sendiri.
Dengan cinta, hidup menjadi indah, persahabatan menjadi langgeng, dan silaturahmi tetap terbina. Tentunya cinta yang diberikan secara tulus tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan kecuali dari Allah semata.

4. Hargailah dan nikmatilah alam. Dengan menghargai alam, jiwa menjadi tenang. Dengan menikmati alam hati menjadi senang. Temukanlah rahasia sesuatu itu tampak menarik, misalnya: bunga yang mekar, surya yang bersinar, sawah yang terhampar.

5. Hargailah orang lain. Misalnya dengan cara membuatnya bahagia, tersenyum, tertawa, memberi pujian yang tulus. Membahagiakan orang lain akan membuatnya membahagiakan kita di saat yang tak terduga, percayalah!

6. Jaga tingkah laku. Banyaklah mendengarkan dan berpikir daripada berbicara, kecuali bila waktunya untuk berbicara. Dengan menjaga lisan dan perbuatan kita, berarti setengah pertempuran hidup telah kita menangkan.

7. Jangan kekanak-kanakan. Sikap dewasa menunjukkan kepribadian yang kuat dan mempesona. Betapa banyak orang tua yang bahkan belum dewasa! Salah satu tanda kedewasaan seseorang antara lain adalah dari sikap, tutur kata, dan caranya di dalam mengambil keputusan secara arif dan bijaksana.

8. Jangan mencari kesalahan orang lain. Hidup kita terlalu singkat untuk melakukan hal ini.

9. Jangan rendah diri. Sudah seharusnyalah kita menerima dan memperbaiki kekurangan kita tanpa pernah merasa minder atau kecil di depan orang lain. Percayalah, tidak seorang manusia pun yang sempurna di muka bumi ini!

10. Jangan sombong. Ketahuilah bahwa selalu ada yang lebih daripada kita. Kesombongan menandakan kekosongan.

11. Kembangkan minat pada berbagai hal. Jangan membatasi diri anda, perluas bakat, minat, kemampuan, pengetahuan, dan keahlian anda. Memiliki satu keahlian atau spesialisasi akan terasa lebih baik dan sempurna jika ditunjang dengan keahlian dalam bidang yang lainnya, sehingga anda akan semakin "bersinar" dan penuh pesona.

12. Selalu baik pada orang lain. Jangan pernah merasa dendam sekalipun kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti kita. Cintailah yang di bumi, niscaya yang di langit akan mencintaimu.

13. Selalu belajar. Semakin sering anda belajar, maka semakin banyak yang anda ketahui. Ilmu ini dapat menjadi lahan amal bagi anda, sehingga anda merasakan nikmatnya berbagi dan indahnya ilmu.

14. Selalu mengikuti informasi dan perkembangan terkini tentang apapun.Dengan banyak mengetahui hal yang paling baru, maka anda akan tampil semakin percaya diri dan penuh pesona. Semakin banyak hal baru yang anda tahu, maka akan semakin banyak pula yang mencari dan mengejar anda...yakinlah!

15. Selalu tegap, sigap, dan siap. Posisi atau postur tubuh anda di dalam berkomunikasi dengan orang lain akan mengungkapkan siapa diri anda yang sebenarnya. Oleh karenanya, milikilah rencana, target, dan strategi (persiapan) yang matang dan semangat yang tak pernah pudar!

16. Selalu tersenyum pada orang lain. Orang akan lebih senang melihat wajah yang dihiasi senyuman daripada wajah yang selalu disertai ratapan atau keluhan.

17. Senang bekerja sama dengan orang lain. Inilah yang membuat jaringan (network) kita semakin luas, erat, dan kuat.

18. Senang menolong orang lain. Dengan gemar menolong orang lain, maka pada hakikatnya kita menolong diri kita sendiri. Semakin banyak orang yang kita tolong, maka akan semakin sering pula kita ditolong oleh Allah dengan cara-Nya yang tak terduga.

19. Terimalah nasib apa adanya. Tetaplah tenang dan tabah, ingatlah bahwa "badai pasti berlalu" dan "roda itu berputar". Jangan suka mengeluh, menggerutu, atau bahkan mencaci-maki nasib. Jangan sampai berkata atau menganggap bahwa Allah itu tidak adil! Justru di sinilah letak keadilan-Nya.

Dengan merenungi dan menerapkan semua hal di atas, maka menjadi pribadi penuh pesona saat ini bukanlah sesuatu hal yang mustahil bagi diri anda. Jika masih belum percaya, cobalah!

UntukMu Bunda

0
Lelah hati, menemani keseharianku....Jenuh dan rasa penat kini membelengguku......Berteman dengan sepi, meratapi kepedihan namun mencoba tetap bertahan...ingin rasaNya keluar dari situasi seperti ini....Namun fikiran ini membuatku terus terpaku....Semua yang kulakukan seakan tiada arti... tiada nilai.....Selalu merasa gagal dalam diri ini...Masalah kian masalah makin menumpuk....Rasanya aq bagai berada di tumpukan jerami dalam kadang yang sempit.....Terasa sesaaakkkk.........Aku tak pernah bermimpi ingin menjadi tuan putri...atau hidup dengan kemewahan....Hanya Ingin meLihat senyumMu Bunda....Namun hal se'sederhana itupun suLit kuwujudkan..Sosokmu bunda, yang membuat ku bertahan dalam situasi ini...aku akan BerusaHaaa sekuadd tenaga... akanku Lakukan yang terbaik untukMu....Demi seNyumMu Bunda..... :)Aku berjanji...Tak akan pernah Letih Lagi.....Aku Takkan membuatmu menangis lagi.....Aku akan tetap Bertahan untukmu....Menjadi sandaranMu disaat usiamu..... :)Aku akan berikan KEBAHAGIANKU untukmu...... :)Hanya untuk Mu Bunda... :)Love u Bunda.... :) :)Teruntuk para Bunda di seluruh dunia

Kata "Maaf" Yang Tak Tersampaikan

0
Aku dibuat pusing oleh sahabatku yang sekarang sedang berbicara tak jelas padaku. Padahal hari ini aku tak begitu Mod. “Ayolah Tania! Kita membuat sebuah permintaan yang didulis dikertas dan kita masukan kedalam sebuah kapsul kotak! Kumohon, aku ingin hanya kita berdua saja yang melakukanya. Bukankah, kamu juga mempunyai sebuah keinginan?”, Ucap Cilya sahabatku.“Cerewet banget, ah!!”, Teriakku kesal. “Sudah kubilang kan, aku gak mau melakukan yang seperti anak kecil itu, Cilya!! Dasar, Bodoh!!”, Teriakku dengan amarah yang begitu besar.Wajah Cilya yang tadi ceria, berubah drastis dengan wajah penuh tanya. Dia menatapku penuh dengan rasa khawatir dan wajah sedihnya pun mulai muncul.Aku hanya pergi meninggalkan CiLya sahabat baikku itu yang kini menjadi begitu menyebalkan. Aku kesal padanya. Memang aku mempunyai sebuah keinginan, tapi tidak usah sampai melakuakn itu, kan?! Menyebalkan!Seminggu pun berlalu, aku masih saling diam dan tak saling bicara dengan Cilya. Dalam hatiku mulai muncul rasa bersalah dan juga rasa sesal. Mengapa aku bertengkar dengan Cilya hanya karena masalah sepele?Dalam Bis sepulang sekolah, aku melihat Cilya dengan raut wajah yang sedih, sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. Ingin kukatakan kata ‘maaf’_ku sekarang juga, tapi tidak jadi. Rasa bersalahku terlalu besar dan rasa sakit hati Cilya pun tidak bisa kututupi dengan kata maaf dariku sekalipun.Wajah Cilya yang polos dan penuh dengan senyuman itu kini berubah hanya karena kegoisanku. Lama berfikir, aku sudah bertekad mulai besok aku akan meminta maaf pada Cilya dan aku tidak peduli kata ‘maaf’_ku akan diterima atau tidak olehnya.Tapi, semuanya terlambat. Aku dikejutkan dengan bendera kuning yang dipajang didepan rumah Cilya. Apa yang terjadi? Aku melangkah pelan menuju rumahnya dengan hati tidak karuan. Aku kira orang tunya meninggal dunia, tapi justru Cilyalah yang sudah tiada. Tadi malam dia tertabrak mobil saat menyebrang jalan sepulang dari taman. Kata orang tuanya, dia pergi kesana untuk menulis sesuatu. Dengan sekejap, aku teringat dengan apa yang dikatakan Cilya tempo hari, dia ingin ‘mengubur sebuah permintaan didalam kapsul kotak’. Aku pun berlari menuju taman dengan air mata membasahi pipiku. Lalu, akupun melihat bekas galihan didekat pohon. Aku lekas menggali dan terus menggali, aku yakin Cilya pasti mengubur permintaanya disini. Kapsul kotak berwarna putih kusam kuambil dengan rasa gugup. Aku mulai membuka selembar kertas, kubaca, dan air mataku pun mulai mengalir kembali. Ternyata Cilya menulis, ‘Jika ada satu permintaan yang dapat dikabulakn, aku hanya meminta agar keinginan Tania terkabul’. Cuaca dipagi hari yang cerah kini berubah menjadi mendung, hujan pun turun dan rasa sesalku terus mengalir. Aku berdiri tegap dengan tangan terus menggenggam kertas itu, dan terus menatap upacara pemakaman Cilya yang kenapa dia pergi lebih dulu sebelum aku mengucapkan kata ‘maaf’ padanya, dan kenapa wajah terakhir Cilya yang aku lihat adalah wajah yang sedih. Mungkin kenangan pahit dan rasa sesalku ini akan terus aku ingat seumur hidupku. Namun, kenangan indah saat bersama Cilya akan selalu menjadi memory yang terindah dalam hidupku, selamanya.Tuhan, Jika ada satu pemintaan yang dapat dikabulkan, aku hanya meminta semoga dia diterima disisimu dan sampaikanlah sejuta kata maafku untuknya.

Arti Kehadiranmu

0
“Hidupku begitu suram. Aku tak memiliki tujuan hidup. Aku tak mengerti arti kehidupan. Yang aku tahu, hidupku selalu membuat susah orang lain. Yang aku tahu, aku selalu menjadi benalu dan batu sandungan bagi orang di sekitarku…”
Namaku Hina, aku tidak pernah bersyukur telah dilahirkan. Gara-gara aku lahir, ibuku meninggal dunia. Aku tidak ingat apa-apa, yang ku ingat aku merasa sesak kala itu, aku harus segera keluar dari tempat sempit dan gelap itu. Aku harus keluar, jika tidak aku akan mati. Aku berhasil keluar dari tempat sempit dan gelap itu. Namun, hal itu malah membuat ibuku meninggal dunia. Kata ayahku, tak lama setelah melahirkanku ibuku terkulai lemas dan tak lama setelah itu ia pun meninggal dunia.
Aku dan kakakku dibesarkan oleh ayah. Aku sama sekali tak merasakan kebahagiaan layaknya anak-anak kecil yang lain. Yang aku tahu kakakku tak pernah memandang mataku, ia selalu menghindariku dan tak pernah mau bercakap-cakap denganku sedangkan ayah tak pernah menemaniku. Ayah harus banting tulang untuk menafkahi keluarga.
Walaupun harus bersusah payah membanting tulang, ayah bersikeras untuk menyekolahkanku. Untuk menyenangkan hatinya, aku pun bersekolah. Prestasiku sama sekali tidak bisa dibanggakan. Aku juga tak pandai bersosialisasi. Aku selalu sendirian. Ayah tak pernah mempedulikan perasaanku, yang ia lakukan hanyalah bekerja dan terus bekerja. Aku iri dengan anak-anak lain yang begitu bahagia dan mendapatkan limpahan kasih sayang dari kedua orang tua mereka.
Aku merasa kakakku sangat membenciku,aku dapat merasakan kebencian itu dari tatap matanya yang dingin. Tatap mata yang seolah tak menginginkan keberadaanku di dunia. Aku tak dapat berbuat apa-apa, karena aku tahu yang membuatnya begitu adalah diriku ini. Aku selalu meratapi kelahiranku, jika dapat memilih aku pasti memilih untuk tidak dilahirkan. Aku benci hidupku sendiri.
Aku menjalani masa hidupku dengan penuh penyesalan dan selalu menyalahkan diri sendiri. Apalagi aku tak memiliki tempat untuk berbagi cerita. Aku merasa sendirian, sepi, dan selalu merasa kalut setiap hari.
Di saat kekalutanku memuncak, aku bertemu dengannya. Anak pindahan dari Jakarta yang bernama Andre. Dia anak yang ceria dan supel, tak heran dalam waktu sekejap ia sudah mendapat teman yang banyak.
“Hai, sudah mau pulang?”, tanyanya padaku.
“Ya”, jawabku.
“Aku boleh ikut kan, aku dengar rumah kita searah. Mulai sekarang kita pulang bareng ya?”, cerocosnya padaku sembari tersenyum.
Sepanjang perjalanan ia terus bercerita padaku, tapi aku tak menghiraukan ceritanya. Walau kukacangi, di tetap saja berbicara dengan logat Jakartanya.
Sejak hari itu, kini kami selalu pulang bersama. Sedikit demi sedikit aku mulai memberanikan diri untuk bercakap-cakap dengannya. Lama-lama kamipun menjadi akrab. Andre membuat suntukku hilang, aku mulai dapat menimati hidup.
Andre sering berkunjung ke rumah untuk mengerjakan tugas bersama. Dia sangat akrab dengan keluargaku. Berkat keberadaanya, jarak yang selama ini memisahkan aku dan kakak perlahan-lahan menghilang. Bagiku, Andre adalah suatu anugerah. Dia adalah berkah yang diberikan Tuhan untukku.
Hari itu aku melihat Nisa menyatakan perasaan pada Andre. Tiba-tiba air mataku meleleh. Aku pun meninggalkan mereka berdua dan mencari tempat yang sunyi untuk menenangkan hatiku. Walaupun aku tak mengetahui jawaban Andre atas pernyataan Nisa, tapi aku merasa aku harus menjauhi Andre mulai sekarang.
Sejak itu, aku menjauhinya. Aku menghindar tiap diajak berbicara dengannya, tak mau menatap matanya, memutuskan untuk pulang sendiri lagi, dan semua cara kulakukan untuk menjauhi Andre. Semakin aku menjauhinya, aku merasa semakin sedih dan tersiksa.
“Hina, tunggu dong. Kamu kenapa? Kenapa kamu menghindar terus?”, ucap Andre sambil mengejarku.
Aku tak peduli dengan perkataanya dan meninggalkannya. Tanpa terasa aku sudah berada di dalam alam lamunanku, ingatan-ingatan akan Andre terus mengalir di dalam otakku. Aku tak mendengar bunyi klakson truk gandeng yang begitu menggelegar. Tiba-tiba…
Truk gandeng itu sudah berada di depan mataku dan aku tak tahu apa yang terjadi kemudian. Semuanya menjadi gelap, mataku terasa berat hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Sebelum kesadaranku menghilang, aku merasa ada lengan yang memelukku. Lengan yang begitu hangat.
Aku tersentak, aku bangun dari tempat tidur dan melihat sekelilingku. Aku mencium bau obat yang begitu menusuk dan melihat ayah sedang tertidur di samping ranjang.
“Ayah…”, ucapku pelan.
Kemudian ayah terbangun dan segera memanggil dokter. Setelah memeriksa dan memberikan diagnosa, dokter meninggalkanku dan ayah.
“Ayah, apa yang terjadi? ”
Ayah terdiam seribu bahasa.
Tiba-tiba aku teringat akan Andre, hingga tanpa sadar aku berteriak…
“Ayah, di mana Andre? Apa yang terjadi dengannya? Di mana dia?”
Ayah tetap diam seribu bahasa.
Aku mengerti apa arti dari kebisuan ayah. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya jika mengenang peristiwa itu.
Keesokan harinya, aku mengunjungi pemakaman Andre. Aku hanya bisa berdiri kaku melihat liang kuburnya. Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku. Aku menoleh melihat si pemilik tangan itu. Ternyata orang itu adalah tante Sisca, ibu Andre. Tante Sisca memelukku dan mengajakku untuk mampir ke rumahnya sepulang dari pemakaman ini.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Andre, tante Sisca terus menceritakan Andre padaku. Begitu tiba di rumahnya, tante memberiku sebuah buku. Ia menyuruhku membacanya. Ia berkata bahwa Andre ingin aku membaca buku itu dan menyimpannya. Aku membacanya sesuai saran tante Sisca. Perlahan-lahan air mata mulai membasahi pipiku, aku begitu terharu melihat kata-kata yang ditulis Andre di dalam buku itu.
“Andre itu sayang banget sama Hina. Dia tidak bisa meninggalkan Hina, apalagi membuat Hina nangis. Andre pingin agar Hina terus tersenyum.”, ucap tente Sisca sambil tersenyum manis padaku.
“Tante…”
“Tan..te… maaf…maafin Hina, gara-gara Hina… Andre… Andre jadi…”, ucapku terbata-bata
“Hina tante kan sudah bilang, Andre tidak mau melihat Hina nangis seperti ini. Memang ditinggal Andre sangat menyedihkan, tapi Andre meninggal karena dia pingin Hina tetap hidup. Karena itu, tolong Hina penuhi keinginan Andre. Hina harus tetap hidup dan selalu tersenyum, seperti yang diinginkan Andre… ”, ucap tante Sisca sambil meneteskan air mata.
Aku memeluk tante Sisca dan aku menyanggupi permintaanya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap hidup dan selalu tersenyum. Aku tidak akan pernah mengecewakan Andre, aku janji.
Sesudah itu, aku menjalani kahidupan seperti biasanya. Tapi, aku menjalaninya dengan penuh syukur. Aku menjalani hidupku dengan penuh senyum.
“Hidupku begitu suram. Aku tak memiliki tujuan hidup. Aku tak mengerti arti kehidupan. Yang aku tahu, hidupku selalu membuat susah orang lain. Yang aku tahu, aku selalu menjadi benalu dan batu sandungan bagi orang di sekitarku…”
Andre, semuanya sudah berubah. Hidupku tak lagi suram, aku merasa hidupku adalah anugerah, aku beryukur telah dilahirkan. Aku beryukur telah berjumpa denganmu. Kelak kita akan berjumpa lagi surga. Sampai saat itu tiba, aku akan menjadi yang terbaik bagimu, aku akan menjadi anugerah bagi orang lain.

Saat Bunda Lelah

0
Putus asa, kupandangi wajah penuh air mata yang tersedu-sedu di pojok kamarku. Sudah setengah jam lebih, dan ia tak jua berhenti menangis. Rupanya teriakanku barusan membuatnya kecewa dan sakit hati hingga ia menangis berkepanjangan. Dan kejadian serupa sudah berulang-ulang terjadi akhir-akhir ini. Hampir seminggu lebih.
Mengapa akhir-akhir ini aku begitu mudah 'bertanduk'?Gampang emosi hanya karena anak-anakku tak henti membuat gaduh dan memporakporandakan rumahku?Pun mulutku begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kasar bila mereka tak mau menuruti nasehatku, bahkan sesekali tanganku menyakiti tubuh-tubuh mungil itu.
Padahal setumpuk buku-buku parenting habis kubaca. Mendidik Dengan Cinta-nya Irawati, Mendidik Anak Cerdas-nya Edwards,Kitchen Table Melody-nya Agnes,Chicken Soup For The Parent's Soul,en seabreg buku lain yang kulahap agar aku bisa mendidik anakku dengan bijak.
Mengapa semua yang kubaca tak lagi memberi inspirasi berarti?
"Masalah-masalah yang diakibatkan oleh ulah anak-anak,ternyata hanya menjadi masalah bagi ibu ketika hati ibu sedang emosi. Manakala sedang tak dikejar weaktu, kondisi badan tak capai, dan saat hati ibu sedang senang, maka kerewelan anak akan mudah dihadapi dengan sabar," papar Irawati Istadi dalam salah satu buku parentingnya.
Mengendalikan emosi. Apakah itu kuncinya?
Lalu, mengapa akhir-akhir ini aku sulit mengendalikan emosiku? Kucoba telusuri hari demi hari yang telah kulewati. Bangun di pagi hari dengan tergesa-gesa. Tak sempat (atau tak menyempatkan diri?) berasyik masyuk dengan-Nya dalam nikmatnya tahajjud, takut anak-anak keburu bangun dan merecoki aktivitas pagiku. Ba'da Shubuh (lagi-lagi) tak menyisihkan sedikit waktu untuk sekedar melantunkan dzikir Ma'tsurat atau selembar mush'af.
Tiba di kantor, disibukkan banyaknya pasien yang antri untuk ditangani, hingga alpa sholat Dhuha. Ketika malam menjelang, kesibukan berkurang, pun anak-anak sudah asyik dalam dunia mimpinya,aku pun ikut terhanyut dalam pelukan malam. Tak ada waktu khusus untuk bermuhasabah atas aktivitasku hari itu, atau sekedar membaca buku, atau bermuraja'ah mengulang hafalan Qur'anku.
Ternyata......Stabilitas emosiku berbanding lurus dengan kejernihan nuraniku. Manakala aku lalai memperbaiki diri dengan ibadah harianku, maka aku tak lagi menikmati manisnya 'bermujahadah' mengasuh amanah-Nya. Yang ada hanya rasa lelah, jenuh, bahkan frustasi karena mereka tak jua berhenti berulah.

Tidak Ada Yang Tak Mungkin

0
Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jika kita mempercayainya dan mau melakukannya dengan sabar. Impianku di dalam hidup adalah menggapai kebahagianku sampai aku harus menghembuskan nafasku yang terakhir. Saat terjadi tsunami aku kehilangan segalanya, aku tidak mempunyai apa-apa lagi. Aku hidup sebatang kara, aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Aku menjadi sangat depresi dan setengal gila, aku hanya menangis setiap hari, hingga aku lupa makan dan lupa apa yang telah terjadi. Aku bertanya dengan orang sekitar apa yang telah terjadi, dan mereka hanya terdiam, lalu aku teringat kembali dan menangis lagi. Ini yang aku lakukan setiap hari. Hingga suatu hari ada bantuan dari pemerintah, dan aku di bangunkan rumah kecil. Aku tinggal seorang diri, aku berumur 7 tahun. Saat orang tuaku masih bersama aku mereka selalu mengajari aku bagaimana menjadi seorang yang mandiri. Jadi walupun aku hidup seorang diri, aku masih bisa menjaga diriku. Tapi ini agak sulit untukku, karena aku sekarang menjadi orang yang cacat, aku tidak mempunyai kaki lagi, aku sangat sedih dengan keadaanku. Sering aku bertanya, mengapa Tuhan tidak mengambil nyawaku saat itu?, mengapa aku masih hidup? Jika aku mati maka aku tidak akan merasakan kepedihan ini. Pintu rumahku diketuk oleh seseorang, aku tidak ingin membukanya karena aku tahu bahwa mereka adalah wartawan yang ingin bertanya bagaimana dengan keadaanku. Tapi masih saja, pintuku di ketuk tanpa henti, yang membuat aku harus menjalankan kursi rodaku. Dan saat aku membukanya ternyata beliau adalah Bapak Presiden yang mengunjungiku. Aku sungguh terkejut dengan kedatangan beliau. Aku langsung mempersilahkan beliau masuk dan duduk di lantai, karena aku tidak mempunyai apa-apa di rumah. Tapi aku masih bisa membikinkan secangkir teh untuk beliau. Banyak orang yang datang mengunjungi rumahku, dan beliau berkata, “bagaiamana keadaanmu?” “tidak begitu baik pak, kehidupanku sekarang sangat sulit, aku masih ingin sekolah, aku masih berumur 7 tahun, tapi sekarang aku harus bertanggung jawab sendiri atas kehidupanku, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menjaga hidupku” “aku mengerti apa yang kamu rasakan, saya datang kemari karena aku tahu hanya kamu seorang yang kehilangan segalanya, dan kamu masih di bawah umur, jadi aku putuskan supaya kamu di rawat di panti asuhan, dimana kamu punya banyak teman, dan juga ada orang yang merawat kamu” “ tapi aku tidak bisa membayar” “panti asuhan ini tidak di pungut biaya, jadi kamu tidak perlu kawatir untuk hal ini, dan kamu mendapat makan setiap hari dan juga sekolah gratis” “oh Tuhan terima kasih Engkau memberikan anugerah yang sangat besar kepadaku. Terima kasih Pak, saya akan belajar dengan baik, dan saya harap walaupun aku cacat aku masih dapat berguna untuk membatu sesama.”Sungguh aku tidak bermimpi untuk mendapatkan ini semua, tetapi aku sekarang sudah tidak sedih lagi, dan aku akan melupakan hal yang telah lalu, dan aku akan menjalani hidup ini. Sudah 20 tahun aku di panti asuhan dan aku sekarang sudah menjadi pria dewasa, nilaiku saat sekolah dulu sangatlah memuaskan, sampai sekarang aku sudah lulus dari perguruan tinggi, dan sekarang aku menjadi seorang sarjana music. Aku bisa memainkan semua alat musik, dan sekarang aku menjadi seorang guru musik di perguruan tinggi terkenal di kotaku. Aku sungguh mengucap syukur kepada Tuhan impianku menjadi kenyataan, dan aku sekarang menjadi orang yang berguna dan dapat membuat orang bahagia saat mereka mendengarkan alunan music yang aku mainkan.

Siapa Bilang gak pacaran gak dapet jodoh!!!!!!!!

0
Aku tau,dalam agamaku,Pacaran itu di haramkan,karena cenderung pada maksiat dan menjerumuskan ke lubang dosa.Yach,aku percaya itu ,dan aku memegang teguh prisip itu..Tapi kalo masalah jatuh cinta,itu sih masalah hati,bahkan itu anugrah terindah dari sang Pencipta..Sekalipun ,sebenarnya banyak orang yang terus berusaha menggoyahkan prinsipku,"no pacaran,yes nikah", "halah nis nis,zaman sekarang itu beda ama zamannya nabi,kalo sekarang gak p[acaran,gak bakal bisa nemuin jodoh yang cocok lah.Masa kayak situ nurbaya,harus di jodohin gitu"kata temenku yang berusaha menghalalkan masalah pacaran itu. "tapi pacaran itu kan banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.Bisa aja seseorang bersikap baik saat pacaran.Cuma untuk memikat hati sang calon istri,tapi setelah itu...yach kelihatan sifat aslinya.Pas pacaran aja naeknya motor baru,eh pas nikah ternyata itu motor kakakny yang dia sewa.Pas pacaran tampangnya alim banget,pas nikah,shalat aja setahun sekali pas lebaran doang..." "ya itu mah beda nisa....sekarang kalo leo gak pacaran,apa loh mau jadi perawan tua yang gak laku2" Dan aku bukan orang yang mudah melepas prinsipku begitu saja,jika aku sudah yakin sesuatu itu baik,maka aku akan memeperjuangkannya sampai kapan pun..Suatu ketika aku merasakn pedihnya jatuh cinta itu,aku mengenal sesosok pria lewat temanku,kebaikan pria itu tak dapat diragukan lagi,semua orang mengakui kebaikannya.Tapi,aku takut untuk menemuinya,sejujurnya aku takut mencintainya,aku takut bertepuk sebelah tangan.Sedang pacaran is haram,aku rasakn cinta begitu menyiksaku.Dalam setiap gerakku selalu terngiang wajahnya.. "oh Tuhan ,seandaunya dia tercipta untukku,dekatkanlah hati ku dengan hatinya..Hamba mencintainya,tapi hamba tak berani mengungkapkannya"aku menangis dalam setiap doaku.. Semakin aku memendam perasaan itu,semakin aku tak kuat untuk menahannya,semakin hatiku sakit..Apalagi aku dengar,begitu banyak wanita yang memperebutkannya..Bagaimana tidak,di zaman se modern ini,masih ada pria yang menjaga teguh pandangannya,menghormati wanita,berbakti pada orang tuanya,baik akhlaknya,tinggi ilmunya..ya ALLAH luar biasa sekali... "Nis,kita saingan untuk dapetin Ridwan ya"kata temenku. "ada ada aja sih,wong aku juga gak suka tuh ama ridwan..cuma kagum aja ama akhlaknya"jawabku berusaha menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya..Ya jelas aku kalah kalo harus bersaing dengannya,dia cantik,baik,sekolahnya tinggi,sedang aku cuma tamatan SMA...cuma orang bodoh yang akan memilih aku ketimbang dia..Gadis yang sama sekali tidak memiliki keistimewaan.. Hari demi hari aku lewati dengan bayangan ridwan yang terus menghantuiku,dan aku sudah mulai merasa bosan menyimpan rasa ini terlalu lama..Meski zaman sudah canggih,tapi aku lebih suka mengungkapkan perasaan lewat secarik kertas..Hari itu juga,ku tulis se buah surat untuknya,yang isinya *Wahai saudaraku,Kau boleh membuang surat ini jika kau merasa tak perlu membacanya.perkenalkan,namaku annisa,aku adalah seorang gadis berjilbab tamatan SMA,ayahku seorang petani biasa,ibuku seorang ibu rumah tangga,aku tidak lemah lembut juga tidak kasar,aku sangat menyukai anak2,aku senang jika bisa membantu orang lain,aku suka berbelanja,aku suka bersolek,aku tidak suka memasak,aku tidak pandai saat sekolah,aku mudah cemas dan khawatir,aku cerewt saat2 tertentu dan sedikit pemarah juga,aku sering jadi bahan ghosib karena banyak orang yang menilaiku negatif,tapi ada juga orang yang menganggaPku sebagai wanita yang kuat memegang prinsip..aku suka mengkritik dan suka dikritik..aku tidak cantik,juga tidak terlalu jelek...Disini ada fotoku,dan kau bisa melihat nya,foto sesuai fisik asli tanpa rekayasa. aku hanya ingin menyatakan perasaanku,sudah sejak lama aku mengenalmu dari sahabat2ku,aku tau banyak tentangmu,aku sangat mengagumimu..Aku terlalu lama menyimpan perasaanku,aku hanya berharap bisa menjadi pendampingmu,menjadi orang yang istimewa untukmu,menjadi ibu dari anak2mu,menjadi penentram jiwamu,dan aku akan berusaha menjadi orang yang berbakti selalu padamu,Selama kau ada di jalan yang benar.. Aku menantikan jawabanmu..Jika kau ingin mengenal segala tentangku,ada sahabatku yang sekarang dekat denganmu ,Sahrul Maulana.. trimakasih telah membaca luahan hatiku ini" Dan untuk beberapa hari kemudian dia membalas suratku itu, #Untuk Ukhti Annisa yang terhormat,ukhti,sebenarnya mungkin penilaian anda terhadap saya terlalu baik,dan mungkin ukhti juga belum tau betapa banyak kejelekan saya ini..Sebagai manusia biasa, saya hanya bisa memberikan jawaban sesuai yang saya rasa..Saya mohon ukhti tidak akan tersinggung karenanya..Aku tau banyak tentang kejelekan ukhti dari akhi sahrul..saya harus mempertimbangakn bagaimana jadinya kalau saya harus menikah dengan orang yang akhlaknya jelek,yang tak pandai saat di sekolah..anak2 saya pasti juga akan menjadi orang jelek tingkahnya..Ukhti juga tidak suka masak,nanti siapa yang akan memasak untuk keluarga saya ,tapi bukan berarti ukhti tidak bisa masak kan..... Tapi,saya juga tau lebih banyak akan kebaikan ukhti dari semua temen ukhti,bahkan orang tua ukhti sendiri...Maaf,saya memang pernah mendatangi rumah ukhti.Saya tau betapa gigihnya ukhti menjaga harga diri,bahkan yang saya kagumi,ukhti tidak pernah menjadi bekas orang lain,ataupun mantan pacar orang lain.Dan sekarang,mencari yang orisinil,suci dan belum terjamah itulah yang sulit .Insya ALLAH,Tuhan akan mempertemukan kita di pelaminan nanti..SEE YOU DI IPT..""

Tersimpan Selamanya

0
Rachel mencoba memejamkan matanya, namun sulit sekali rasanya. Dipikirannya entah mengapa hanya ada Rex, kakak kelasnya yang sudah lama ia puja, kelas satu. Rex memang sangat baik, pintar dan lumayan tampan. Bagi Rachel, Rex adalah orang yang paling sempurna. Meskipun Rex tidak tahu bahwa Rachel sangat mengagumi dan mencintainya.Berawal dari masuknya Rachel ke EGO (Eterna Golden Voice), sebuah ekstrakulikuler Vocal Group di sekolah Rachel, Eterna City School. Rex juga anggota EGO, angkatan diatas Rachel. Dan sejak itulah Rachel jatuh hati pada kakak kelasnya itu. Rachel orangnya sangat pemalu dalam cinta. Dia hanya memendamnya dihati, berharap perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi toh, siapa tahu jika dia jujur, ternyata Rex juga jatuh hati padanya, bisa menjadi keberuntungan untuk Rachel. Namun Rachel tidak mau mengambil resiko.Kamis ini ada Event besar di Eterna City School, dan EGO diundang untuk mengisi acara menyanyikan 2 lagu. Kesempatan ini sangat dinantikan oleh Rachel, karena acara ini membuat EGO sering berlatih, 3x seminggu. Dan Rachel bisa melihat pujaannya itu lebih sering. Rex adalah seorang pria yang apa adanya, berhidung mancung, dan sangat pintar. Mungkin karena ke-apa-adanya-an-nya itu yang membuat Rachel sangat tergila pada Rex. Tak terasa Event telah dimulai, Tim EGO akan menampilkan lagu I'm with You (Avril Lavigne) dan More Than Words (Westlife).***Hari ini, adalah hari terakhir kelas 3 berada di Eterna City School. Ya, mereka telah dinyatakan lulus dan hari ini adalah hari Wisuda. Terlihat Rex dengan gagahnya mengenakan Kemeja berhias Jas Hitam. Rachel menangis tersedu-sedu dari kamar ganti. Rachel masih kelas dua dan EGO hari ini mengisi acara wisuda menyanyikan 8 lagu. Ini adalah hari terakhir Rachel bertemu Rex. Tim EGO menaiki panggung, lalu mendendangkan lagu Gaudeamus Igitur. Rachel menatap kearah Rex, namun Rex tidak menyadari. Rex terlihat sedang tersenyum dan Rachel tanpa sadar telah menitikkan airmata dipanggung. Tanpa terasa wisuda hampir berakhir. Rachel masih tetap menangis, menangis dan menangis."Rex, biarlah kutak menjadi milikku. Biarlah hanya tuhan yang tahu betapa aku sangat mencintaimu. Bahagialah selepas sekolah nanti, bahagiamulah semangat hidupku. Biarlah aku tersiksa, biarlah hatiku yang berteriak. Kujanji, cinta ini akan selalu kujaga, dan akan Tersimpan Selamanya. Sampai jumpa, aku selalu merindukanmu." Ujar Rachel dalam hati.Rachel pulang dengan langkah gontai dan tersedu-sedu. Tanpa dia sadari, sebuah mobil merah berlari kencang menuju kearah Rachel. Braaakkk... Rachel terlempar 3 meter dari jalan raya. Kini ia hanya berhiaskan pakaian kotor dan darah segar. Dan cinta Rachel-pun abadi selamanya.

Air Mata Mentari

0
Mentari menangis di pagi yang indah itu, kala kepodang kuning hinggap di pucuk sawit muda sambil menyisir sayap yang bermahkotakan angkasa. Keharuman serbuk sari kembang melur, memikat sekumpulan kupu-kupu ringan dalam kehidupan yang elok penuh warna-warni untuk menikmati sarinya. Tak luput dari itu, seratus embun pagi enggan untuk pergi sebelum mempersembahkan kesejukannya kepada pucuk dedaunan, karena ingin bercanda sejenak dengan surya yang baru selangkah jauhnya dengan bumi. Alam berusaha menitipkan ciuman dari wajahnya yang ayu kepadamu, Mentari! “Di beranda rumahmu kenapa engkau menangis?”
Gadis kecil itu sekarang mulai tumbuh dewasa, dengan rambut lurus bagai disisir angin berkibaran memberi daya tarik tersendiri, kulit langsat-manis ditambah dengan keindahan paras yang memiliki kemiripan dengan mutiara dari Arab, laksana lukisan Sang Pencipta yang Maha Indah. Tubuhnya tumbuh berubah menjadi bidadari yang sedang mekar, ia gadisku yang kini menginjak usia tujuh belasan.
“Engkau seharusnya tidak bersedih karena kesedihan itu tidak cocok untuk menghiasi senyuman dengan lesung pipit dan bibir tipismu Mentari.” Aku mengadu pada bumi yang berselimut kabut di tepian Kabupaten Pontianak.
“Aku menunggu ceritamu di 19 Januari 1999 itu sahabat, engkaulah yang dengan sabar mendengarkan cerita ibuku kala keputus asaan menderanya dengan dasyat. Yach..hanya engkau! Sampaikan itu kepadaku!” Mentariku menjawab dalam linangan air mata.
“Sayang, ketahuilah olehmu cerita itu begitu pahit untuk kau dengar. Jangan kau rusak kelembutan pagi ini dengan cerita pilu. Sebab sejarah itu nanti akan merong-rong akal dan pikiranmu sampai ke dasar samudera kesadaran, laksana rayap memakan sepertiga meranti tua itu, kekasih. Jangan!” Lanjutku meminta perhatiannya.
Aku selalu tak sanggup untuk mengenang peristiwa itu, dan rasa ketidak sanggupanku semakin bertambah hingga membuat tubuh ini semakin terpuruk dalam lingkaran kenestapaan yang panjang. Tragedi itu tergurat jelas dalam setiap detail ingatanku dan ratusan ingatan saudara-saudaraku yang dalam hidupnya terus dikelilingi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum tuntas. Aku semakin meringkuk di sini. ‘Di relokasi korban tragedi berdarah Kampung Mekar Sari.’ Ia adalah saksi perekam nyanyian jerit hati yang menyayat, melebihi suara lolong serigala dalam dunia malam hutan belantara Khatulistiwa.
Di pagi ini, aku harus bercerita mengenai itu, tetapi sanggupkah aku?
Seperti biasa, setiap minggu pagi di beranda rumah yang berukuran tidak lebih dari 12x20 meter persegi, Mentari menungguku.
Rumah itu sungguh kecil. Aku tak pernah menganggapnya rumah tapi tempat pembuangan sampah. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada ruang tamu, tak ada sova, apalagi sederet lukisan indah penghias dinding. Hanya sebuah kamar dan seonggok perkakas alat dapur yang sedikit berkarat. Tak ada sumur dan wc, di sana mereka menjalani hidup dan terus berusaha menggapai impian yang terkadang gelap. Dengan sebatang pohan nangka muda yang belum berbuah di halaman dan tiga batang bunga kertas ditambah serumpun bunga melur, mencoba menghias dan memberikan keharuman sekitar. Aku melihatnya bukan sebagai keindahan melainkan sebuah keterpaksaan.
Mentari selalu menunggu ceritaku, persis seperti ribuan manusia-manusia kota menunggu koran dengan kehangatan secangkir kopi di saat yang sama. Persahabatan kami terjalin mesra dalam ikatan kemanusiaan.
Sudah seratus delapan puluh empat pagi kami lalui sejak perkenalan itu. Engkau selalu mendengar cerita indah dan ketenteraman Surga Firdaus. Kali ini engkau menagihku. Dan aku pun menyanggupi.
“Mentari, engkau terlahir bukan di sini, melainkan di sebuah desa yang jaraknya jauh tersekat oleh hamparan pulau. Di Rambeyan engkau lahir.” Aku memulai bercerita, dan ia pun membetulkan posisi duduknya hingga kami saling berhadapan. Sementara puluhan petani itu mulai melangkahkan kakinya menuju pematang, untuk mengolah tanah gambut menjadi butiran-butiran nasi yang mengisi perut biar tidak tergerut. Sungguh perjuangan yang berat.
“Aku mendengar kisah ini dari ibumu kala engkau masih merah, dengan darah yang belum tuntas benar dan air susu yang baru keluar tiga sampai empat tetes. Demi keselamatan dirinya dan kamu dari kekejaman perang; engkau dibawa mengungsi walau usiamu baru tiga hari.” Suaraku tersekat dalam himpitan dada yang perih, sejenak aku berhenti dan menarik nafas panjang untuk melenyapkan rasa itu.
Di tempat itu lah segala sesuatunya bermula. Malam itu sehari sebelum umat Islam merayakan kemenangan di Idul Fitri, tatkala ribuan insan beriman tinggal selangkah lagi menuju kemenangan, dalam perjuangannya mematahkan bujuk rayu setan melalui segentong pundi-pundi kenikmatan duniawi, sejarah perang Sambas tertoreh.
“The clash of civilitation! benturan peradaban” kulanjutkan cerita ini, berat dan penuh tekanan.
Malam itu, di dusun Setia Dharma Desa Parit Setia, terdengar teriakan minta tolong dari seorang warga yang melihat sekelebat orang masuk ke dalam rumahnya. Teriakan itu membangunkan para peronda untuk mendatangi asal suara itu dan melakukan pengepungan. Adalah Hasan, pemuda dari Desa Rambeyan tertangkap, dan oleh warga ia diamankan selanjutnya akan diserahkan kepada polisi pada keesokan harinya.
Namun apa yang terjadi malam itu sungguh berlainan dengan issu yang beredar di Rambeyan, bahwa Hasan telah disiksa oleh warga Parit Setia.
Adzan sholat Ashar berkumandang memanggil umat untuk bersujud menyerahkan jiwa dan raga ke Ilahi Robbi, laksana badai tiba-tiba menerjang dua ratus lebih tubuh yang dirasuki amarah, menghantam dan membabat mereka. Celurit dan golok berayun merobohkan tubuh-tubuh yang berusaha menghadang. Tiga nyawa melayang dari ubun-ubun warga Parit Setia di Ashar itu.
Firman-Nya menguap. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Sungguh lafi khusrin yang kutangkap, kerugian dan kehampaan terus menyelimuti perjalanan sejarah itu.
Api mulai terpercikkan. Ilalang kering terbakar merambat ke segala penjuru kehidupan yang di bawa angin. Menghembuskan panas. Memancarkan kilatan-kilatan lidah Dajjal. Kemudian menjelma menjadi burung nazar.
Tragedi Parit Setia, memicu segalanya.
Di sore itu, Minggu 21 Februari 1999 di Tebas, Rodi mengamuk. Setelah Bujang Lebik kernet bus meminta ongkos pembayaran atas dipakainya jasa transportasi, bukan bayaran yang diterima, namun celurit yang berkelebat membabat tangan dan kaki kanan Bujang. Laksana angin kisah itu menyebar ke seluruh Sambas. Bujang Lebik di issukan dibunuh oleh Rodi. Warga marah. Sungguh orang-orang etnis itu tidak bisa menghargai budaya orang lain, kemana pun mereka pergi celurit selalu ada di balik pinggang. Opini masyarakat mulai menyeruak. Bagai bara dalam sekam yang tersiram minyak, masyarakat yang masih marah dalam tragedi Parit Setia makin memuncak, menerobos mengoyakkan kesadaran dan membuangkan rasa kemanusiaan.
Senin 22 Februari di tengah malam, hanya ada satu bintang muncul karena musnah tersapu badai yang membawa dendam. Tiga ratus orang mengepung Rodi dalam wajah yang bertopengkan kebengisan. Adalah senapan lantak yang menyambut hingga pelipis ini tersayat dan justru dari sinilah dendam kesumat mulai membara dalam panas yang menghanguskan.
Kenapa engkau bernama Rodi? Haruskah karena kamu tragedi ini tertorehkan? Semuanya terjadi dengan cepat.
Perang berkecamuk di pesisir pantai. Di Tebas, Pemangkat, Jawai, Sambas, Selakau – sang nazar terus mengepakkan sayap mengikuti bau anyir darah, berputar di angkasa merah sambil mencakar batu-batu. Bau itu terus merambat masuk wilayah Samalantan dan Monterado. Kemarahan berkecamuk di Desa Jirak, Merabu, Kampung Jawai, dan seluruh jagat di bumi Borneo.
Sang Nazar memakan bangkai di Semparuk, Kelambu, Penjajab dan Tebas. Sejuta galon darah tersiramkan di tanah, cacing dan lalat menggeliat dan menari diantara setumpuk otak yang terburai melebihi gundukan pasir di tepian laut lepas. Ber mil-mil jauhnya, sungai-sungai menghanyutkan kepala yang disimpan di balik belukar dan pohon tumbang, lalu membusuk memberikan aroma kengerian kepada angin dengan harapan tercium oleh wanginya kesturi. Engkau mati di negeri yang berjarak ribuan kilo meter dari bangsa asalmu, Madura!
Sejenak aku berhenti menerawang dan tenggelam dalam ngilu.
Selang sehari berikutnya, perang bergerak dan mengibarkan benderanya di tanah Pemangkat. Puting beliung belum reda dan terus menyapu kesadaran dengan hembusan angin yang bergemuruh melebihi ledak, melengking melebihi jeritan, meraung melebihi badai, dan terkapar melebihi maut. Api membakar tiga puluh tiga rumah dan menerjangkan berpuluh nyawa di siang itu. Pedang, klewang, senapan lantak, kapak, belati, panah semuanya membabat dengan mata terpejam sambil tidak menghiraukan ayat-ayat. Semua terus mengibarkan panji-panji putih. “Entah sampai kapan?” Aku mengadu pada Mentari.
Mentari menggigil, ia menggeserkan tubuhnya sejengkal dari ku. Ditatap sekumpulan kumbang sawah terbang dengan meninggalkan suara berdengung menyelinap di kedua telinga kami. Rambutnya yang lurus bagai disisir angin tiba-tiba berubah menjadi belati yang menusuk jantungku. Kepodang kuning yang tadi hinggap di sawit muda, kini menjelma menjadi rajawali dengan cakar yang siap mencabik kulit-kulitku. Dengan gagap aku merayu Mentari.
“Hukum tak mampu menghukum kesadaran yang mulai lepas Mentari, dan segalanya tak terhindarkan. Empat hari perang itu terjadi. Namun di empat kehidupan ingatan itu tak akan hilang. Air mata menetes terbawa oleh tetesan darah saudara-saudaraku se-iman yang mulai kering, maka tabahkanlah hatimu. Jangan salahkan agama. Ini semua hanya kekhilafan dan keangkuhan manusia.” Mentari mendekapku dalam rengkuhan yang gamang, sambil menyeka keperihan yang mengendon dalam jiwa, ia pun berdendang “Satu-satu, daun berguguran, jatuh ke bumi, dimakan usia, tak terdengar tangis, tak terdengar tawa, redalah reda…” Aku teringat akan lagumu kawan.
Di beranda rumahmu aku pun menangis. “Aku teringat akan ibumu Mentari.”
Nurjati! Baru kemarin engkau melahirkan. Dokter dan bidan belum menyuruhmu untuk pulang, sementara selang oksigen masih menempel di kedua rongga pernafasanmu. Tubuhmu rapuh, melebihi kerapuhan ranting kering. Darah persalinanmu belum tuntas, sementara air susumu baru tiga sampai empat tetes memberi kehidupan pada anakmu. Kini mengapa engkau meringkuk di Mekar Sari?
“Perang membawaku ke sini Along” Nurjati menjelaskan kepada ku di suatu hari tepat enam tahun yang lalu. “Rumahku terbakar. Entah berapa puluh nyawa melayang. Lelaki, perempuan, orang tua bahkan sebagian anak-anak pun tidak luput dari amukan. Mereka mati sebelum sempat bertanya “Engkau siapa? Ada apa ini? Apa salahku? Kenapa…? Suamiku pun begitu. Aku hanya membawa dia, si bayi mungil yang kuajak berlari di titian kematian walau baru kemarin ia hidup, karena aku tak mau ia mati kembali. Aku akan melawan ketakutan, mengumpulkan tenaga pada tulang-tulangku yang pucat pasi untuk berani berlari walau rahimku terbakar. Aku ingin Mentari senyum di pagi esok.”
“Di tempat pengungsian ini, aku dan sekian puluh ribu saudara Maduraku meminta perlindungan, di GOR Pangsuma perjuangan kami belum usai untuk melawan kematian. Bukan senjata, namun kelaparan, gizi buruk, sanitasi dan sejuta penyakit berusaha merenggut nyawa kami, hanya Mentari yang memberiku kekuatan.” Nurjati menangis mengenang itu.
“Tapi itu masa lalu Along, kini aku dan mereka sudah menang melawan penderitaan. Kami bangun hidup ini dengan kaki-kaki kami sendiri, tanpa putus asa. Dan yang penting bagiku adalah Mentari tetap tersenyum di tiap pagi.” Ku ucapkan kalimat itu dengan suara lantang sampai tiga kali, dan ia pun bangkit.
Mentari berjalan empat langkah mendekati pohon nangka muda itu, ia keluarkan secarik kertas lantas menulis sebuah puisi dengan polpen yang tak bertutup di antara cabang pohon yang rendah. Dan sekian menit berikutnya sebuah puisi tertulis. Sedikit dan sederhana, namun memberi arti. Ia tempel puisinya di batang dengan kekuatan di antara keindahan paras yang memiliki kemiripan dengan mutiara dari Arab. Aku membaca.
“Ibuku terjungkal hidupnya di sini. Di kampung ini. Yang berderet seratus duapuluh rumah tanpa kepastian. Kecuali ilalang liar dan hutan keras untuk di olah sebagai ladang di tanah gambut khatulistiwa. Di mana mataharinya mampu membakar batu-batu menjadi sekubik abu yang membumbungkan berlaksa-laksa kabut asap. Bangkitkan aku anak-anakmu ibu. Dengan cinta bukan peperangan…”
Masihkah engkau berduka Mentari?Tidak!.....

Seribu Satu Wajah

0
Titik-titik embun itu perlahan menguap menandakan hari baru akan segera dimulai. bunyi sepatu para cleaning service yang sejak tadi sibuk mondar-mandir mengepel lantai menjadi pemandangan yang sudah tidak asing lagi kusaksikan setiap pagi. aku menghirup udara pagi yang sejuk. bertanya dalam hati "kenapa hal ini jarang kulakukan? datang pagi lebih awal?" ia seh, memang ada angin di balik kedatanganku kali ini ke kampus yang jauh lebih cepat dari biasanya. jujur saja yach, aku belum mem-print tugas yang akan ku kumpulkan jam 8 nanti. pasalnay, kiriman Bapak dari Kampung belum datang. maklumlah, tanggal tua. dan kini, aku harus memutar otak agar bisa mem-print tugas tanpa mengeluarkan biaya. he..he...how come?kenapa aku setiap hari bisa kalah cepat dari para cleaning service atau anak-anak pemulungyang sedari tadi sudah sibuk dengan rutinitasnya? ada pemandangan tidak lazim yang sering kusaksikan di Kampus ini. bukti nyata bahwa kesenjangan sosial negeri ini sangat akrab denagn mata kita sendiri. Lihatlah, mobil-mobil yang berjejeran di depan kelas itu, kawan. mulai dari honda Jazz, Cherry, sampai BMW. Semuanya seperti berebut untuk pamer dan unjuk gigi. mobil-mobil itu milik mahasiswa, tentunya. yang entah punya sendiri atau pinjam dari orang tua, cuma untuk sekedar pamer. bukan karena aku jealous. oh, bukan sama sekali, kawan. aku hanya sekedar memberi bukti, bahwa di negeriku ini, di satu sisi mobil-mobil mewah berjejeran seperti pameran, sementara di sudut lain, nenek-nenek paruh baya dan anak-anak kecil yang seyogyanya lebih banyak menghabiskan masa kanak mereka dengan bermain, malah dipaksa oleh perut-perut mereka mengorek-ngorek tempat sampah untuk menemukan satu atau dua gelas aqua bekas dari mulut-mulut mahasiswa yang akan disulap menjadi rupiah.ada fenomena baru lagi kawan. sejak situs jejaring sosial mulai merebak dan meracuni otak generasi bangsa ini, mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu mereka di depan warnet untuk mempelototi laptop cuma untuk sekedar ber-say hello dengan teman-teman dari dunai maya mereka yang menurutku tidak begitu penting. bahkan tak jarang handphone muali beralih fungsi jadi tempat online, dimana saja, termasuk saat dosen sedang menjelaskan. bukankah itu fenomena miris, kawan. di satu sisi berapa rupiah yang mengalir dari kantong mereka untuk membeli pulsa. dalam sehari untuk online. faktanya, salah satu temanku mengaku bisa menghabiskan pulsa 20 ribu perhari untuk sekedar online tidask jelas juntrungannya.padahal di sisi lain, lihatlah kawan nenek-nenek dan anak kecil yang mengais-ngais temapt sampah sepagi ini. paling berapa pendapatan mereka sehari? paling banter cuma 5 ribu rupiah. salah satu kata-kata Favorit yang berhasil kuabadikan dari buku yang pernah kubaca, bunyinya seperti ini:ya, berhubung karena aku cinta mati sama Jerman, makanya kata-katanya juga pake Bahasa Jerman dong. ya, isinya kurang lebih begini, "der Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es kommt darauf an, Sie zu verandern." katanya neh, para filsuf itu hanya sekedar menafsirkan dunia menurut pandangan mereka, padahal yang terpenting adalah mengubahnya, begitu katanya. jadi selama ini hanya seperberapa persen dari milyaran penduduk dunia yang berhasil mengubah dunia menjadi lebih baik. bahkan para filsuf aja nggak bisa kan? apa aku bisa menerobos sedikit dari orang-orang yang berhasil mengubah dunia. hoffentlich.

Seekor Burung Merpati Jantan dan Melati Putih

0
Kisah seekor burung merpati dan bunga melati Pada suatu hari,hidunplah seekor burung merpati jantan yang hidup di sangkar dekat ranting pohon akasia di Taman Kota.Hari-hari indah selalui di laluinya,mengapa demikian ? Karena ia selalu ditemani oleh setangkai bunga melati di bawah sangkarnya . Entah mengapa,burung merpati sangat mencintai bunga melati itu,namun,sang melati malah sebaliknya,ia benci dan iri terhadap burung merpati yang selalu terbang bebas kemanapun ia pergi,dan melati,ia selalu dianggap tidak menarik dengan warna bunga yang biasa ini .Sore hari,Sang Merpati melihat Melati sedih sendiri di tengah rerumputan yang tak bisa diajak berteman. Merpati pun mendaratkan tubuhnya di salah satu pagar taman yang melindungi bunga melati itu . “Hei melati yang indah,kenapa kau bersedih ?” Tanya Sang Merpati . “Apa ? indah ? untuk apa kau datang kemari?Jangan sok peduli” Bukannya membalas dengan baik,Melati malah memarahi Sang Merpati . “Iya,kau memang indah,kau selalu terlihat mempesona dimataku,aku memang peduli terhadap mu, taukah kamu ? bahwa aku selalu memperhatikanmu setiap saat setelah mencari makan,dan taukah kamu ? bahwa yang selalu menyirammu dengan air hangat di tengah malam yang dingin itu aku,aku yang selalu membasahi bulu-bulu ku di bukit dekat pemandian air panas itu dan membawanya kesini dan ku berikan padamu disaat kau terlelap kedinginan,dan taukah kamu ? bahwa aku sangat sangat mencintaimu” Kata Merpati . “Oh ... makasih,jadi,apakah aku harus berbalas budi padamu ? aku ini tidak seperti dirimu,yang bisa terbang bebas ke sana kemari, aku ..aku hanya disini sendiri,di temani rerumputan ini yang tidak ingin berbicara denganku,aku yang memiliki warna yang tidak memikat ! aku kesepian selama ini !!”Melati pun menitikkan air mata, “Apa ?? kau mencintaiku ? bohong !”marah si Melati tak percaya dengan kata-kata sang Merpati . “Iya ! aku sangat mencintaimu ! aku akan lakukan apa saja yang kau inginkan !” Kata Sang Merpati . “OK ! buktikan itu ! aku ingin kau dapat merubahku menjadi merah dalam jangka waktu 2 hari !” Pinta sang Melati . “OK ! akan ku lakukan itu,berikan aku waktu”Kata Sang Merpati dan ia segera terbang ke ranting pohon dekat sangkarnya . Selama 2 hari itu,merpati selalu memikirkan bagaimana cara merubah melati putih menjadi merah,ia selalu memikirkan nya . 2 hari kemudian,datanglah merpati ke pagar dekat melati.Melati sedang terlelap di subuh hari itu . Merpati belum menemukan cara bagaimana membuat melati putih menjadi merah . Setelah beberapa saat ia memandangi melati,terlintaslah cara untuk merubah melati putih menjadi merah . Merpati terbang ke tepi jalan,dilihatnya lampu jalan yang terlak di sudut kota,ia segera memecahkan bohlam lampu dengan kepalanya sehingga bohlam jatuh dan pecah.Diambilnya pecahan bohlam yang terbesar dan dibawanya ke Taman . Taman masih terlihat sepi. Merpatipun terbang ke atas Sang Melati,di pegangnya pecahan kaca yang terletak di sayap kanannya,dalam keadaan terbang di atas,Merpati mulai menggoreskan pecahan bohlam itu ke sayap kirinya, setelah beberapa waktu,darah menetes ke melati putih itu,dan keajaiban terjadi,melati yang semula putih itu berubah menjadi kemerah merahan , ternyata mahkota yang menyerap darah yang penuh cinta itu . Merpati tersenyum bahagia,di potongnya lagi sayap kirinya sampai putus dan jatuh kebawah. Merpatipun terlihat semakin melemah namun tetap tersenyum,kini,merpatipun terbang dengan satu sayap saja,walau sulit untuk di percaya,merpati masih dapat terbang dengan satu sayap saja . Demi membahagiakan melati putih kesayangannya,merpati rela menggigit sayap kanannya dengan mulutnya,hingga,keluarnya tetes tetes darah merpati,darah semakin deras menetes ke melati,kini,melati itu benar-benar merah. Merah yang bukan merah biasa,merah yang sangaaaaat merah sekali,kini,melati terlihat memikat hati . Namun,Merpati tersenyum,jatuh,dan melemah . Terlihat merpati mengatakan sesuatu terhadap rerumputan itu . Waktu menunjukkan pukul 6:30,matahi terbit di timur sana,melati putih yang kini menjadi merah pun terbangun. Ia kaget,ia melihat merpati jatuh dengan 1 sayap yang terpisah dari tubuhnya,dan satu sayang terkoyak dan masih melekat ditubuh sang merpati . Entah mengapa,melati pun menangis . “Melati-melati,sekarang lihatlah,merpati telah membuktikannnya,kini kau telihat anggun dengan warna merah yang sangaaaaat merah ! Ia tadi bilang : Bilang pada melati,bahwa aku mencintainya,aku rela melakukan apapun untuknya,walaupun itu tidak dapat membuatku bahagia lagi,kini,aku tidak memiliki sayap yang dapat berfungsi lagi,cinta itu tidak memandang perbedaan,aku sangaaat mencintai melati,dan bilanglah,maaf,aku tidak dapat melindungimu lagi di tengah malam yang dingin dengan meneteskan air panas,kini,ia pasti akan memikat hati pengunjung taman ini,ia pasti akan hidup bahagia tanpa diriku,aku sungguh bahagia bila melihatnya bahagia,lihatlah rumput ! melati anggun bukan dengan warna merah darahku ? aku rela mati untuknya, dan bilang padanya .. aku sangat mencintainya.. dan ntah mengapa.. merpati tidur dan tidak terbangun lagi !” Kata rerumputan menyampaikan pesan dari detik-detik terakhir kehidupan merpati .Melati sekali lagi meneteskan air mata tanda kesedihan,ia kini menyesal . “Kenapa aku selalu tidak mempercayai kata-kataa merpati ?? kenapa ??? aku sungguh menyesal !! oh tuhan !! buatlah merpati kembali bahagia !! ku inginkan ia bahagia !! “ Melati teriak menangis . Namun,itu telah terlambat,sekarang ia tak dapat lagi melihat merpati,dan ternyata..sebenarnya... melati juga mencintai merpati , namun ia tak ingin mengakuinya . Seorang wanita cantik datang menghampiri melati . “Hei sayang ! lihatlah ! melati ini sungguh anggun,dan ia... merah ! sungguh merah !”Kata wanita itu dengan lelaki di sampingnya .Lelaki itu memetik melati,dan memberikan kepada wanita itu . “Ini,kamu rawat ya?”Kata lelaki itu sambil tersenyum . “OK say !”Jawab sang wanita .Merekapun meninggali taman .“Merpati,sungguh,ku takpercaya, kata-kata mu membuatku percaya apa arti cinta,kini..aku mungkin dapat hidup bahagia dengan wanita ini...ku harapkan engkau dspt hidup di surga sana dengan bahagia,dan makasih atas darahmu..dan ... i love you” Kata melati dalam benaknya .