Recent twitter entries...

Arti Kehadiranmu

“Hidupku begitu suram. Aku tak memiliki tujuan hidup. Aku tak mengerti arti kehidupan. Yang aku tahu, hidupku selalu membuat susah orang lain. Yang aku tahu, aku selalu menjadi benalu dan batu sandungan bagi orang di sekitarku…”
Namaku Hina, aku tidak pernah bersyukur telah dilahirkan. Gara-gara aku lahir, ibuku meninggal dunia. Aku tidak ingat apa-apa, yang ku ingat aku merasa sesak kala itu, aku harus segera keluar dari tempat sempit dan gelap itu. Aku harus keluar, jika tidak aku akan mati. Aku berhasil keluar dari tempat sempit dan gelap itu. Namun, hal itu malah membuat ibuku meninggal dunia. Kata ayahku, tak lama setelah melahirkanku ibuku terkulai lemas dan tak lama setelah itu ia pun meninggal dunia.
Aku dan kakakku dibesarkan oleh ayah. Aku sama sekali tak merasakan kebahagiaan layaknya anak-anak kecil yang lain. Yang aku tahu kakakku tak pernah memandang mataku, ia selalu menghindariku dan tak pernah mau bercakap-cakap denganku sedangkan ayah tak pernah menemaniku. Ayah harus banting tulang untuk menafkahi keluarga.
Walaupun harus bersusah payah membanting tulang, ayah bersikeras untuk menyekolahkanku. Untuk menyenangkan hatinya, aku pun bersekolah. Prestasiku sama sekali tidak bisa dibanggakan. Aku juga tak pandai bersosialisasi. Aku selalu sendirian. Ayah tak pernah mempedulikan perasaanku, yang ia lakukan hanyalah bekerja dan terus bekerja. Aku iri dengan anak-anak lain yang begitu bahagia dan mendapatkan limpahan kasih sayang dari kedua orang tua mereka.
Aku merasa kakakku sangat membenciku,aku dapat merasakan kebencian itu dari tatap matanya yang dingin. Tatap mata yang seolah tak menginginkan keberadaanku di dunia. Aku tak dapat berbuat apa-apa, karena aku tahu yang membuatnya begitu adalah diriku ini. Aku selalu meratapi kelahiranku, jika dapat memilih aku pasti memilih untuk tidak dilahirkan. Aku benci hidupku sendiri.
Aku menjalani masa hidupku dengan penuh penyesalan dan selalu menyalahkan diri sendiri. Apalagi aku tak memiliki tempat untuk berbagi cerita. Aku merasa sendirian, sepi, dan selalu merasa kalut setiap hari.
Di saat kekalutanku memuncak, aku bertemu dengannya. Anak pindahan dari Jakarta yang bernama Andre. Dia anak yang ceria dan supel, tak heran dalam waktu sekejap ia sudah mendapat teman yang banyak.
“Hai, sudah mau pulang?”, tanyanya padaku.
“Ya”, jawabku.
“Aku boleh ikut kan, aku dengar rumah kita searah. Mulai sekarang kita pulang bareng ya?”, cerocosnya padaku sembari tersenyum.
Sepanjang perjalanan ia terus bercerita padaku, tapi aku tak menghiraukan ceritanya. Walau kukacangi, di tetap saja berbicara dengan logat Jakartanya.
Sejak hari itu, kini kami selalu pulang bersama. Sedikit demi sedikit aku mulai memberanikan diri untuk bercakap-cakap dengannya. Lama-lama kamipun menjadi akrab. Andre membuat suntukku hilang, aku mulai dapat menimati hidup.
Andre sering berkunjung ke rumah untuk mengerjakan tugas bersama. Dia sangat akrab dengan keluargaku. Berkat keberadaanya, jarak yang selama ini memisahkan aku dan kakak perlahan-lahan menghilang. Bagiku, Andre adalah suatu anugerah. Dia adalah berkah yang diberikan Tuhan untukku.
Hari itu aku melihat Nisa menyatakan perasaan pada Andre. Tiba-tiba air mataku meleleh. Aku pun meninggalkan mereka berdua dan mencari tempat yang sunyi untuk menenangkan hatiku. Walaupun aku tak mengetahui jawaban Andre atas pernyataan Nisa, tapi aku merasa aku harus menjauhi Andre mulai sekarang.
Sejak itu, aku menjauhinya. Aku menghindar tiap diajak berbicara dengannya, tak mau menatap matanya, memutuskan untuk pulang sendiri lagi, dan semua cara kulakukan untuk menjauhi Andre. Semakin aku menjauhinya, aku merasa semakin sedih dan tersiksa.
“Hina, tunggu dong. Kamu kenapa? Kenapa kamu menghindar terus?”, ucap Andre sambil mengejarku.
Aku tak peduli dengan perkataanya dan meninggalkannya. Tanpa terasa aku sudah berada di dalam alam lamunanku, ingatan-ingatan akan Andre terus mengalir di dalam otakku. Aku tak mendengar bunyi klakson truk gandeng yang begitu menggelegar. Tiba-tiba…
Truk gandeng itu sudah berada di depan mataku dan aku tak tahu apa yang terjadi kemudian. Semuanya menjadi gelap, mataku terasa berat hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Sebelum kesadaranku menghilang, aku merasa ada lengan yang memelukku. Lengan yang begitu hangat.
Aku tersentak, aku bangun dari tempat tidur dan melihat sekelilingku. Aku mencium bau obat yang begitu menusuk dan melihat ayah sedang tertidur di samping ranjang.
“Ayah…”, ucapku pelan.
Kemudian ayah terbangun dan segera memanggil dokter. Setelah memeriksa dan memberikan diagnosa, dokter meninggalkanku dan ayah.
“Ayah, apa yang terjadi? ”
Ayah terdiam seribu bahasa.
Tiba-tiba aku teringat akan Andre, hingga tanpa sadar aku berteriak…
“Ayah, di mana Andre? Apa yang terjadi dengannya? Di mana dia?”
Ayah tetap diam seribu bahasa.
Aku mengerti apa arti dari kebisuan ayah. Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya jika mengenang peristiwa itu.
Keesokan harinya, aku mengunjungi pemakaman Andre. Aku hanya bisa berdiri kaku melihat liang kuburnya. Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku. Aku menoleh melihat si pemilik tangan itu. Ternyata orang itu adalah tante Sisca, ibu Andre. Tante Sisca memelukku dan mengajakku untuk mampir ke rumahnya sepulang dari pemakaman ini.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Andre, tante Sisca terus menceritakan Andre padaku. Begitu tiba di rumahnya, tante memberiku sebuah buku. Ia menyuruhku membacanya. Ia berkata bahwa Andre ingin aku membaca buku itu dan menyimpannya. Aku membacanya sesuai saran tante Sisca. Perlahan-lahan air mata mulai membasahi pipiku, aku begitu terharu melihat kata-kata yang ditulis Andre di dalam buku itu.
“Andre itu sayang banget sama Hina. Dia tidak bisa meninggalkan Hina, apalagi membuat Hina nangis. Andre pingin agar Hina terus tersenyum.”, ucap tente Sisca sambil tersenyum manis padaku.
“Tante…”
“Tan..te… maaf…maafin Hina, gara-gara Hina… Andre… Andre jadi…”, ucapku terbata-bata
“Hina tante kan sudah bilang, Andre tidak mau melihat Hina nangis seperti ini. Memang ditinggal Andre sangat menyedihkan, tapi Andre meninggal karena dia pingin Hina tetap hidup. Karena itu, tolong Hina penuhi keinginan Andre. Hina harus tetap hidup dan selalu tersenyum, seperti yang diinginkan Andre… ”, ucap tante Sisca sambil meneteskan air mata.
Aku memeluk tante Sisca dan aku menyanggupi permintaanya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap hidup dan selalu tersenyum. Aku tidak akan pernah mengecewakan Andre, aku janji.
Sesudah itu, aku menjalani kahidupan seperti biasanya. Tapi, aku menjalaninya dengan penuh syukur. Aku menjalani hidupku dengan penuh senyum.
“Hidupku begitu suram. Aku tak memiliki tujuan hidup. Aku tak mengerti arti kehidupan. Yang aku tahu, hidupku selalu membuat susah orang lain. Yang aku tahu, aku selalu menjadi benalu dan batu sandungan bagi orang di sekitarku…”
Andre, semuanya sudah berubah. Hidupku tak lagi suram, aku merasa hidupku adalah anugerah, aku beryukur telah dilahirkan. Aku beryukur telah berjumpa denganmu. Kelak kita akan berjumpa lagi surga. Sampai saat itu tiba, aku akan menjadi yang terbaik bagimu, aku akan menjadi anugerah bagi orang lain.

Comments (0)

Posting Komentar